Saat hujan, air masuk dari genting yang bocor dan sela-sela dinding yang bolong.
“Saat malam, aing juga berhembus lewat sela-sela dinding. Bahkan rumah Badrudin berdiri di atas tanah pabrik sehingga sewaktu-waktu bisa digusur,” katanya.
Selain menjadi marbut, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Badrudin memelihara beberapa ekor ayam dan bebek.
Dengan penghasilan yang tak menentu dan pas-pasan, tambah Muchlis, sangat sulit bagi Badrudin untuk membeli tanah serta membangun rumah untuk keluarga.
“Meski ekonominya sulit, Badrudin tak pernah putus asa dan tetap bersemangat menjadi marbut masjid serta mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat berjemaah. Ia berharap kelak bisa membangun rumah yang layak,” pungkas Muchlis.