Dalam kesempatan itu, Try berpesan kepada juniornya agar PPAD harus mempersiapkan anggotanya agar tidak saja siap menghadapi berbagai tantangan. Ingat, kata Try, TNI adalah tentara pejuang, tentara rakyat, dan tentara nasional. “Yang pensiun status administrasinya, tetapi jiwa pejuangnya tidak pernah ada kata pensiun,” tegasnya.
Kita, kata Try Sutrisno, digembleng oleh TNI untuk mengyahati doktrin. Karenanya harus mewakili semangat juang leluhur. Bahwa datangnya kemerdekaan Indonesia, adalah berkat keringat dan pengorbanan jiwa rata pejuang. “Karenanya PPAD harus mengingatkan kepada bangsa ini, ihwal atribut pejuang yang melekat pada bangs akita,” ujar Try.
Ayah tujuh anak lalu menyitir pengantar Doni Monardo sebelumnya, ihwal orientasi organisasi menuju peningkatan kesejahteraan purnawirawan melalui semangat dan jiwa kewirausahaan. “Entah karena perang, entah karena perubahan iklim, entah karena wabah, tetapi ancaman krisis pangan sangat nyata. Karena itu kita harus waspada dan bersiaga,” ujarnya.
Try meminta PPAD ikut mensosialisasikan, bahwa sumber karbohidrat tidak hanya beras dan gandum. “Dulu, orang Papua, Maluku dan Indonesia timur makan sagu. Masyarakat madura makan jagung. Tapi kita kemudian di-beras-kan. Sampai-sampai orang Papua pun tergantung beras. Ini keliru,” katanya.
Karena itu, kita harus mengembalikan tradisi dan budaya pangan kita. Sejarah masa lalu Nusantara menunjukkan kita sebagai bangsa yang unggul. Banyak relief dan prasasti yang membuktikan itu.
Try Sutrisno mencatat ada 10 bahan pangan khas lokal dan asli milik bangsa Indonesia. Di antaranya, sorgum, jagung, sagu, porang, sukun, talas, ketela, ubi jalar, singkong, kedelai, terigu. “Bahkan sudah ada penelitian, kandungan gizi dan karbohidrat sukun sama dengan beras,” katanya.