Share

Kekerasan pada Anak Meroket, dari Perkawinan di Bawah Umur hingga Kekerasan Seksual Online

Aan haryono, Koran SI · Kamis 23 Juni 2022 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 519 2616991 kekerasan-pada-anak-meroket-dari-perkawinan-di-bawah-umur-hingga-kekerasan-seksual-online-F7PUh9jkq7.jpg Ilustrasi/ Foto: Okezone

Ada 196.7 juta orang Indonesia terhubung dengan internet, hampir setengah dari jumlah tersebut mengakses internet melalui smartphone. Di Jawa Timur, 26,4 juta orang akses internet atau lebih dari 64% dari total penduduk Jawa Timur.

Anak-anak di Indonesia menggunakan smartphone sebagai perangkat utama mereka di ruang daring/online. Kepemilikan smartphone dan penggunaan media sosial rentang usia 16–24 tahun mencapai 93,3% dan 90,7%. Adapun, 41% anak-anak dan remaja di Indonesia menyembunyikan usia sebenarnya di dunia maya.

Di sisi lain, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim bersama UNICEF Indonesia terus mendukung pengembangan sistem perlindungan anak yang integratif serta holistic. Mereka mengajak semua OPD serta stakeholder perlindungan anak di tingkat Jawa Timur untuk bisa bersama-sama membangun lingkungan yang aman dan ramah anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur, Restu Novi Widiani menuturkan, masih banyak pekerjaan rumah di Jatim yang berhubungan dengan anak. Selain stunting, kekerasan pada anak serta pernikahan anak juga masih tinggi.

“Kami berterima kasih pada semua pihak yang sudah ikut dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak serta masalah-masalah perlindungan anak lainnya. Termasuk ikut dalam mengembangkan sistem perlindungan anak bagi OPD maupun stakeholder di Jatim,” ujar Novi, Kamis (23/6/2022).

Ia melanjutkan, perundungan serta pekerja anak juga menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Masih banyak dijumpai pekerja anak yang usianya di bawah 18 tahun.

“Untuk perkawinan anak, dispensasi nikah di Jatim juga masih tinggi,” jelasnya.

Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Wilayah Jawa, Naning Pudjijulianingsih mengatakan, sistem perlindungan anak di Jatim sudah dikembangkan di beberapa daerah termasuk peningkatan kapasitas layanan Kesejahteraan sosial dan Perlindungan anak, layanan di tingkat masyarakat/berbasis masyarakat, edukasi pengasuhan positif dan penguatan kapasitas anak sebagai pelopor dan pelapor.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini