Share

Cinta Lingkungan, Menyulap Sampah Berton-ton di Lautan Jadi Karya Seni dari Rok Balet hingga Korset

Susi Susanti, Okezone · Kamis 30 Juni 2022 18:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 18 2621329 cinta-lingkungan-menyulap-sampah-berton-ton-di-lautan-jadi-karya-seni-dari-rok-balet-hingga-korset-ybhgK6d2g8.jpg Sampah di laut diubah menjadi karya seni (Foto: Facebook)

AUSTRALIA - Sebuah kawasan penghasil mutiara di Australia Barat melakukan pendekatan baru untuk membersihkan sampah di laut. Tiap tahun, sukarelawan mengumpulkan beberapa ton sampah di Pulau Abrolhos di Geraldton. Sampah itu kemudian diserahkan kepada warga kreatif setempat yang mengubahnya menjadi karya seni.

Sebuah kapal nelayan bermuatan penuh tiba pada waktu pagi menjelang di Geraldton, Australia Barat. Muatannya kali ini tidak biasa. Tali, jaring, plastik dan kayu, semuanya menumpuk tinggi. Semua itu adalah sampah yang dikumpulkan sukarelawan selama beberapa hari di Pulau Abrolhos, 60 kilometer dari pesisir Geraldton.

Sampah tersebut tidak dibawa ke tempat pembuangan akhir, melainkan diserahkan ke seniman profesional dan amatir.

 Baca juga: Menghibur Diri, Fotografer Ukraina Gunakan TikTok Ubah Zona Perang Jadi Karya Seni

"Saya mencari tutup botol dan potongan sampah untuk membuat karya seni,” kata seniman Paige Kirby, dikutip VOA.

Baca juga: Apa Kabar 12 Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik?

"Tali ini begitu berbeda dari apapun yang pernah saya lihat. Jadi saya pikir ini akan menjadi keranjang yang cantik,” ujar seniman lainnya, Glenda Blyth.

Hasilnya sangat indah dan juga bisa dikenakan. Seperti yang dibuat oleh seniman Verity Pearce, yang tahun ini membuat karya yang ia sebut Nixie, si peri air. Karyanya berupa tutu (rok balet) kecil dengan atasan korset, yang seluruhnya terbuat dari tali, jaring serta sedikit kawat.

Pembersihan laut difokuskan pada pengumpulan plastik yang menimbulkan kerusakan.

"Potongan-potongan kecil plastik inilah yang mengapung di lautan. Hewan-hewan memakan potongan ini, burung-burung menyantapnya. Mereka kini menemukan potongan-potongan kecil plastik di dalam perut burung,” kata Pendiri Flotsam and Jetsam, Pia Boschetti.

Proyek pembersihan ini bernama Flotsam and Jetsam. Penyelenggaranya meyakini mereka melakukan perubahan yang berarti untuk pantai-pantai di pulau tersebut.

"Ketika kami pertama kali memulai Flotsam, perlu satu hari untuk mengisi kapal kami yang berawak 17 sukarelawan. Sekarang kami mungkin memiliki hingga 30 sukarelawan, dan perlu tiga hari untuk mengisi kapal dengan sampah dalam jumlah yang sama. Jadi bagi saya, ini menunjukkan sampahnya lebih sedikit, kami benar-benar melakukan pembersihan,” lanjutnya.

Inilah cara mengubah sampah menjadi barang berharga yang memberi manfaat bagi lingkungan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini