“Dia ada di sana dengan visa seperti yang dilakukan orang lain,” tambahnya.
Mantan Presiden itu meninggalkan Sri Lanka pada 13 Juli lalu, setelah berbulan-bulan protes massal yang menyalahkan pemerintahnya atas krisis ekonomi terburuk negara itu sejak kemerdekaannya pada 1948.
Orang-orang Sri Lanka semakin kewalahan dengan melonjaknya biaya hidup, didorong oleh inflasi yang melonjak dan kekurangan valuta asing.
Negara ini secara resmi default setelah gagal melakukan pembayaran bunga utang pada Mei lalu. Mata uang asing yang berkurang telah melumpuhkan ekonomi, mengganggu impor dan menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya.
Rajapaksa menyerahkan surat pengunduran dirinya dari Singapura. Dia digantikan mantan Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremesinghe, yang dipilih oleh anggota parlemen pekan lalu.
Setelah pengunduran diri Rajapaksa, ketegangan di jalanan mereda. Namun, gelombang protes baru bisa melanda negara kepulauan itu sekali lagi jika dia memutuskan untuk kembali.
(Susi Susanti)