PRESIDEN pertama Indoneisa, Soekarno, tumbuh sebagaI remaja yang berani dan percaya diri, termasuk dalam hal percintaan.
Pada saat usianya 14 tahun, Soekarno tertarik pada teman sekolahnya yang dijuluki ‘noni Belanda’ bernama Mien Hessels.
Soekarno mengaku satu-satunya jalan yang ia ketahui untuk mendapatkan keunggulan dari bangsa kulit putiih adalah dalam percintaan.
"Hanya inilah satu- satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih," katanya.
Pada waktu itu, Soekarno pernah mendatangi orangtua Mien, namun ia disambut secara kasar.
"Kamu inlander kotor, kenapa kamu berani mendekati anakku? Keluar!" ujar Tuan Hessels, ayah Mien.
Pengalaman pahit itu tak membuat Soekarno jera dalam memikat hati Mien Hessels.
Ia berkata, "Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Saya kira setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita," tuturnya.
Namun demikian, Soekarno tetap memperhatikan pendidikannya. la sadar bahwa pendidikan adalah faktor penting bagi kehidupannya dan masa depannya.
Bertahun-tahun kemudian keyakinannya ini pula yang mengantarkannya menjadi pemimpin bangsa Indonesia.
Pada 1915, Soekarno menyelesaikan pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan berhasil melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.