Share

Dianggap Murtad, Media Konservatif Iran Puji Pelaku Penusukan Penulis Salman Rushdie

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 13 Agustus 2022 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 18 2647249 dianggap-murtad-media-konservatif-iran-puji-pelaku-penusukan-penulis-salman-rushdie-fgGH7bABYm.jpg Media konservatif Iran memuji pria yang menikam penulis Salman Rushdie (Foto: AP)

TEHERAN - Surat kabar ultra-konservatif Iran Kayhan pada Sabtu (13/8/2022) memuji pria yang menikam penulis Inggris Salman Rushdie.

Saat ini, Rushdie dilaporkan masih menggunakan ventilator setelah serangan yang terjadi pada acara sastra di negara bagian New York pada Jumat (12/8/2022).

"Bravo untuk pria pemberani dan sadar tugas yang menyerang Salman Rushdie yang murtad dan bejat di New York," tulis surat kabar konservatif itu, dikutip CNA.

Pemimpin surat kabar ini diketahui ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi saat ini Ayatollah Ali Khamenei.

Baca juga: Profil Salman Rushdie, Penulis Kontroversial 'Ayat-Ayat Setan'

"Mari kita cium tangan orang yang menusuk leher musuh Tuhan dengan pisau," tambah harian itu.

Dengan pengecualian publikasi reformis Etemad, media Iran mengikuti garis yang sama, menggambarkan Rushdie sebagai "murtad".

 Baca juga: Penulis 'Ayat-Ayat Setan' Salman Rushdie Ditikam, Dunia Internasional Mengecam Keras

Surat kabar milik negara Iran mengatakan bahwa "leher iblis" telah "dipotong dengan pisau cukur".

Pihak berwenang Iran belum membuat komentar resmi tentang serangan penusukan terhadap Rushdie.

Rushdie, 75, menjadi sorotan dengan novel keduanya "Midnight's Children" pada 1981, yang memenangkan pujian internasional dan Penghargaan Booker bergengsi Inggris untuk penggambaran India pasca-kemerdekaan, tempat ia dilahirkan.

Tapi bukunya "The Satanic Verses" pada 1988 mengubah hidupnya ketika Khomeini mengeluarkan dekrit agama yang memerintahkan pembunuhannya.

Rushdie menjadi korban ancaman pembunuhan yang membuatnya harus bersembunyi selama lebih dari 30 tahun. Ancaman ini termasuk fatwa mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ruhollah Khomeini yang menginginkan kematiannya.

Pada 1998, pemerintah Presiden reformis Iran Mohammad Khatami meyakinkan Inggris bahwa Iran tidak akan menerapkan fatwa tersebut.

Namun Khamenei mengatakan pada 2005 dia masih percaya Rushdie adalah seorang murtad yang pembunuhannya akan diizinkan oleh Islam.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini