Share

Putus Pasokan Gas, Putin Dituduh Gunakan Energi Sebagai Senjata Perang

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 02 September 2022 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 02 18 2659565 putus-pasokan-gas-putin-dituduh-gunakan-energi-sebagai-senjata-perang-jEusUq488w.jpg Rusia tutup pipa gas ke Eropa dengan alasan perawatan turbin (Foto: Reuters)

JERMAN Eropa dan Amerika Serikat (AS) menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin “mempersenjatai” energi karena telah menutup pipa gas utama Nord Stream-1 ke Jerman pada Rabu (31/8/2022). Kedua negara itu juga sangsi jika penutupan itu dilakukan untuk proses perawatan turbin.

Tahun lalu, Rusia memasok 40 persen kebutuhan gas Uni Eropa (UE). Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia mengurangi aliran gas Nord Stream 1 menjadi hanya 20 persen dari kapasitasnya. Moskow menyalahkan penutupan pipa gas terbaru pada sanksi Barat yang menyasar ekonominya.

Dalam kunjungan ke Kota Lubmin di pesisir Baltik Jerman pada Selasa (30/8/2022), di mana pipa Nord Stream mendarat dari laut, Perdana Menteri negara bagian Bavaria di Jerman, Markus Soeder, mengatakan bahwa negaranya dalam posisi yang sulit.

Baca juga: Rusia Kembali Tutup Pipa Gas Utama ke Eropa Selama 3 Hari, Menteri Jerman: Itu Bukan Kabar Baik

“Putin bermain-main dengan Nord Stream 1 dan Nord Stream 2. Saya rasa ini semacam permainan. Masalah kami sekarang adalah kami tidak dalam posisi yang memadai untuk menanggapi permainan ini,” terangnya kepada wartawan, dikutip VOA.

Baca juga: Harga Energi Meroket, Rusia Malah Bakar Gas Senilai Rp148 Miliar per Hari

Harga gas Eropa saat ini telah melonjak menjadi sekitar 10 kali harga rata-rata mereka selama dekade terakhir. Jerman menyatakan krisis gas pada bulan Juni dan memperingatkan bahwa konsumen dan pelaku usaha harus memangkas konsumsi gas mereka. Sejak itu, tingkat konsumsi sudah berkurang sekitar 20 persen.

Dalam sebuah pidato yang keras dan suram pekan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan akan berakhirnya masa-masa keberlimpahan – dan mengatakan bahwa warga harus lebih berhati-hati saat menggunakan gas.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

“Kebebasan kita – sistem kebebasan, yang sudah terbiasa kita jalani – memiliki harga yang harus dibayar. Terkadang, jika harus dipertahankan, ia bisa menuntut pengorbanan untuk mencapai suatu akhir pertempuran yang harus kita lakukan,” kata Macron pada rapat kabinet 24 Agustus lalu.

Dengan ditutupnya keran gas oleh Rusia, Eropa berebut mencari sumber energi alternatif. Impor gas alam cair (LNG) telah membantu Eropa mengisi tempat-tempat penyimpanan gas hingga kapasitas 80 persen, dua bulan lebih cepat dari target Uni Eropa. Hal itu telah menenangkan pasar dan menurunkan harga dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Tom O’Donnell dari Free University di Berlin, yang juga pendiri kelompok analis energi The Global Barrel mengatakan simpanan itu tidak akan bertahan selamanya.

“Simpanan (gas alam cair) saja tidak akan cukup untuk musim dingin. Dengan diputusnya semua pipa – yang mana harus kita perkirakan akan dilakukan Rusia: memutus semua pipa – bahkan dengan semua gas alam cair yang bisa kita ambil, simpanan itu hanya akan bertahan selama dua setengah bulan pada musim di mana penghangat ruangan dinyalakan. Yang kemudian terjadi: Eropa terjebak,” ujarnya kepada VOA.

Dia mengatakan Eropa sendiri sedang mencoba melepaskan diri dari pasokan gas Rusia. Namun hal itu memakan waktu setidaknya dua tahun.

“Untuk sementara, ia memegang kendali dan ia akan menggunakan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan bisnisnya itu. Ketergantungan Eropa terhadap gas yang dikirim Rusia melalui pipa itu jauh lebih besar dari pada, katakanlah, pentingnya uang itu bagi Putin, karena ia mendulang pendapatan yang jauh lebih besar dari minyak,” lanjutnya.

Sementara itu, ada kekhawatiran yang berkembang atas suar gas Rusia yang telah menyala di dekat perbatasan Finlandia selama dua bulan. Para pakar mengatakan, Rusia membakar gas senilai USD10 juta (Rp149 miliar) setiap harinya, melepaskan 9.000 ton karbon dioksida ke atmosfer.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini