Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

5 Masjid Bersejarah yang Dibangun pada Masa Penjajahan Belanda

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Selasa, 06 September 2022 |05:02 WIB
5 Masjid Bersejarah yang Dibangun pada Masa Penjajahan Belanda
Masjid Agung Al Barkah, salah satu masjid yang dibangun pada masa penjajahan. (Dok Okezone)
A
A
A

PADA masa penjajahan Belanda, terdapat masjid-masjid yang dibangun sebagai tempat ibadah umat Islam. Masjid-masjid tersebut masih berdiri hingga sekarang bahkan terus diperbarui dan menjadi bangunan bersejarah di Indonesia.

Masjid dibangun dengan penambahan kebudayaan daerah asal yang menjadi ciri khas. Inilah 5 masjid bersejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda, sebagaimana dirangkum pada Selasa (6/9/2022).

1. Masjid Agung Al-Fattah, Mojokerto

Masjid tertua yang ada di Kota Mojokerto ini berdiri pada 1877 Masehi, masa kolonial Belanda. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kromodjojo Adinegoro III atau Raden Ersadan. Raden Ersadan ditunjuk pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi regent (bupati era penjajahan Belanda) Mojokerto pertama, yang memerintah dari tahun 1866 hingga 1894.

Masjid yang sudah berusia 145 tahun ini dipugar dan pemugaran selesai pada awal 2020 lalu dengan memadukan budaya Islam Timur Tengah dan Majapahit. Kebudayaan Majapahit masih dipertahankan sampai saat ini yaitu berupa ukiran pada 4 tiang penyangga bangunan. Pada masing-masing soko guru dari kayu jati itu juga terdapat ukiran pewayangan.

2. Masjid Bujang Salim, Aceh

Masjid Bujang Salim ini didirikan pada 1921 oleh Teuku Bujang. Namun, saat setelah peletakan batu pertama masjid yang terletak di Desa Beringin Dua, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Teuku Bujang diasingkan ke Irian Jaya karena menentang kolonial Belanda. Kemudian pembangunan masjid dilanjutkan oleh Uleebalang asal Dewantara, Ampon Hanafiah.

Dalam perjalanannya, masyarakat sepakat menabalkan nama Teuku Bujang Slamat menjadi nama masjid jami tersebut, yaitu dengan nama Masjid Bujang Salim.

3. Masjid Ar-Rahman, Pekanbaru

Masjid yang berlokasi di Jalan Sudirman, Pekanbaru ini dibangun pada era kolonial Belanda tahun 1930. Tanah seluas 300 meter persegi yang digunakan untuk membangun Masjid Ar-Rahman ini adalah milik seorang bangsawan Jawa bernama Raden Sastro Djaya Ningrat.

Raden Sastro merupakan bekas kepala desa di Kota Pekanbaru. Ia memerintah selama tiga zaman, yaitu zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan setelah kemerdekaan.

Masjid Ar-Rahman terus mengalami renovasi, hingga pada tahun 2006 diperluas setelah mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Riau. Setahun setelahnya, Pemkot Pekanbaru ikut melengkapi segala sarana dan prasarana pendukung untuk Masjid Ar-Rahman.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement