Share

Peneliti China Berhasil Mengkloning Serigala Kutub untuk Melindungi dari Ancaman Kepunahan

Susi Susanti, Okezone · Rabu 21 September 2022 18:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 18 2672247 peneliti-china-berhasil-mengkloning-serigala-kutub-untuk-melindungi-dari-ancaman-kepunahan-khoIUuY1n9.jpg Peneliti China berhasil mengkloning serigala kutub (Foto: Sinogene Biotechnology Co)

HONG KONG – Para peneliti di China telah berhasil mengkloning serigala Arktik liar dan berharap teknologi genetik kontroversial sekarang dapat digunakan untuk membantu menyelamatkan spesies lain yang terancam saat dunia menuju krisis kepunahan.

Pada Senin (19/9/2022), perusahaan yang berbasis di Beijing Sinogene Biotechnology meluncurkan klon serigala betina, yang dinamai Maya oleh para ilmuwan. Ini menandai umurnya 100 hari sejak ia lahir pada 10 Juni lalu.

Perusahaan mengatakan Maya, serigala abu-abu-coklat dengan ekor lebat, dalam kondisi sehat. Selama konferensi pers, perusahaan menunjukkan video Maya bermain dan beristirahat.

Baca juga: Ilmuwan Berhasil Kloning Tikus dari Sel Kulit

"Setelah dua tahun upaya yang sungguh-sungguh, serigala Arktik berhasil dikloning. Ini adalah kasus pertama dari jenisnya di dunia," kata Mi Jidong, manajer umum perusahaan, pada konferensi pers, dikutip media pemerintah China, dikutip CNN.

Baca juga: China Berhasil Lahirkan Babi Pertama di Dunia yang Dikloning Robot

Serigala Arktik, juga dikenal sebagai serigala putih atau serigala kutub, adalah subspesies serigala abu-abu yang berasal dari tundra Arktik Tinggi, di Kepulauan Arktik utara Kanada.

Menurut World Wildlife Fund (WWF), status konservasinya - metrik yang digunakan untuk menentukan seberapa dekat suatu spesies dengan kepunahan - dianggap berisiko rendah, karena habitat Arktiknya cukup jauh untuk menghindari pemburu.

Tetapi perubahan iklim semakin mengancam pasokan makanannya, sementara pembangunan manusia seperti jalan dan jaringan pipa merambah wilayahnya.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Sinogene dalam sebuah pernyataan yang diposting di platform mirip Twitter, Weibo, menyatakan pihaknya meluncurkan proyek kloning serigala Arktik pada 2020, bekerja sama dengan taman hiburan kutub Harbin Polarland.

Untuk membuat Maya, perusahaan menggunakan proses yang disebut transfer inti sel somatik -- teknik yang sama yang digunakan untuk membuat klon mamalia pertama, Dolly the sheep, pada 1996.

Pertama, mereka menggunakan sampel kulit dari serigala Arktik asli -- juga disebut Maya, diperkenalkan dari Kanada ke Harbin Polarland -- untuk mengambil "sel donor", yang kemudian disuntikkan ke dalam telur anjing betina dan dibawa oleh ibu pengganti.

Menurut media pemerintah, para ilmuwan mampu menciptakan 85 embrio seperti itu, yang dipindahkan ke dalam rahim tujuh anjing beagle -- menghasilkan kelahiran satu serigala Arktik yang sehat, Maya yang baru dikloning.

Perusahaan itu mengatakan dalam posting Weibo-nya bahwa serigala Arktik kloning kedua diharapkan akan segera lahir.

"Teknologi kloning memberikan titik masuk yang baik untuk perlindungan hewan liar yang terancam punah, yang merupakan kontribusi besar bagi perlindungan keanekaragaman hayati," kata He Zhenming, Direktur Institut Sumber Daya Hewan Laboratorium dari Institut Nasional untuk Pengawasan Makanan dan Obat-obatan China, di posting-an Weibo.

Menurut posting tersebut, dia menambahkan bahwa keberhasilan kloning Maya adalah peristiwa penting, yang sangat penting bagi perlindungan satwa liar dunia dan pemulihan spesies yang terancam punah.

Sinogene mengatakan juga akan mulai bekerja dengan Taman Margasatwa Beijing untuk meneliti lebih banyak teknologi dan aplikasi kloning, serta melakukan penelitian tentang konservasi dan pengembangbiakan hewan langka dan terancam punah di China.

Maya asli diketahui meninggal karena usia tua pada tahun 2021, menurut Global Times. Maya kloning sekarang tinggal bersama ibu pengganti beagle, dan nantinya akan ditempatkan di Harbin Polarland, terbuka untuk umum.

Ini bukan pertama kalinya teknologi kloning digunakan oleh para ilmuwan konservasi.

Di Malaysia, di mana setiap badak sumatera telah mati, para ilmuwan berharap dapat menggunakan jaringan dan sel beku untuk melahirkan badak baru menggunakan ibu pengganti. Dan pada akhir 2020, para ilmuwan Amerika berhasil mengkloning musang kaki hitam liar yang terancam punah, yang pernah dianggap punah secara global.

Ilmuwan lain bertaruh pada teknologi penyuntingan gen -- dengan satu tim di Australia mencoba menyunting sel dari marsupial untuk menciptakan kembali kerabat dekatnya, harimau Tasmania yang telah punah.

Upaya ini berkembang ketika para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah, saat Bumi mendekati apa yang secara luas dianggap sebagai kepunahan massal keenamnya.

Ada lima peristiwa kepunahan massal dalam sejarah, masing-masing memusnahkan antara 70% dan 95% spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Yang terbaru, 66 juta tahun yang lalu, dinosaurus menghilang.

Kepunahan massal keenam ini akan menjadi unik, karena didorong oleh manusia -- yang telah memusnahkan ratusan spesies melalui perdagangan satwa liar, polusi, hilangnya habitat, dan penggunaan zat beracun.

Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa sekitar sepertiga dari semua tumbuhan dan hewan dapat menghadapi kepunahan pada 2070. Keadaan ini bisa menjadi lebih buruk jika emisi gas rumah kaca terus meningkat dengan cepat.

Tetapi banyak dari upaya konservasi baru ini juga menimbulkan kontroversi, dengan pertanyaan yang diajukan tentang etika dan implikasi kesehatan dari kloning dan pengeditan gen.

Dalam kasus Maya, seorang ilmuwan mengatakan kepada Global Times, diperlukan lebih banyak penelitian tentang apakah kloning dapat menyebabkan potensi risiko kesehatan. Juga perlu ada lebih banyak pedoman yang ditetapkan untuk menentukan penggunaan teknologi yang tepat. Seperti hanya mengkloning spesies yang sudah punah atau sangat terancam punah.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini