Share

Dianggap Tidak Layak Perang, Ribuan Tentara Wajib Militer Rusia Dipulangkan dari Ukraina

Susi Susanti, Okezone · Senin 03 Oktober 2022 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 18 2679878 dianggap-tidak-layak-perang-ribuan-tentara-wajib-militer-rusia-dipulangkan-dari-ukraina-3dL2IDXHer.jpg Ribuan tentara wajib militer Rusia dipulangkan dari Ukraina (Foto: Antara/Reuters)

LONDON - Ribuan warga Rusia yang dimobilisasi ke Ukraina untuk menjalani wajib militer (wamil) telah dipulangkan karena dinilai tidak layak dan cocok melakukan tugas kemiliteran.

Mobilisasi pertama oleh Rusia sejak Perang Dunia Kedua tersebut telah memicu ketidakpuasan warga dan mendorong ribuan pria untuk meninggalkan negara itu.

Mikhail Degtyarev, Gubernur Khabarovsk di Timur Jauh Rusia, mengatakan ribuan warga pria telah mendaftarkan diri dalam 10 hari tetapi banyak dari mereka yang tidak layak menjalani tugas kemiliteran.

Baca juga: Menhan AS: Ukraina Membuat Kemajuan di Medan Perang Berkat Tentara dan Pasokan Senjata

"Hampir separuh dari mereka kami pulangkan karena tidak memenuhi kriteria untuk menjalani dinas militer," kata Degtyarev lewat unggahan video di aplikasi pesan Telegram, dikutip Antara.

Baca juga: Walikota Rusia: Sebagian Pria Jadi Sukarelawan ke Ukraina untuk Kabur dari Istri

Dia mengatakan komisaris militer di wilayah itu telah diganti, tetapi hal itu tidak mempengaruhi kelanjutan mobilisasi.

Mobilisasi tersebut seharusnya mendaftarkan warga dengan pengalaman militer tetapi kerap mengabaikan riwayat kedinasan, kesehatan, status pendidikan dan bahkan usia.

Di medan tempur, pasukan Ukraina mengklaim telah merebut kendali penuh atas pusat logistik Rusia di wilayah timur, Lyman.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Keberhasilan itu membuka jalan bagi Ukraina untuk memotong jalur pasokan ke pasukan Rusia.

Beberapa hari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pencaplokan empat wilayah Ukraina, termasuk Lyman.

Kiev dan negara-negara Barat telah mengutuk aneksasi itu dan menyebutnya sebagai "lelucon".

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan perebutan Lyman pada Sabtu (1/10/2022) membuktikan bahwa Ukraina mampu mengusir pasukan Rusia dan menunjukkan dampak dari pengiriman senjata Barat ke Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan keberhasilan tentaranya tidak hanya terjadi di Lyman. Sedangkan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan bahwa Washington "sangat bersemangat" dengan kemajuan Ukraina.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada Sabtu (1/10/2022) pihaknya menarik mundur tentara dari Lyman "karena adanya ancaman pengepungan".

Mereka tidak menyebut-nyebut Lyman dalam laporan harian pada Minggu (2/10/2022), tetapi mengatakan bahwa pasukan Rusia telah menghancurkan tujuh depot artileri dan rudal di wilayah Kharkiv, Zaporizhzhia, Mykolaiv dan Donetsk.

Perebutan Lyman menjadi kekalahan terbesar Rusia sejak Ukraina melancarkan serangan kilat di Kharkiv pada September lalu.

Gubernur setempat, Serhiy Gaidai, mengatakan kendali atas kota itu menjadi faktor kunci yang membantu Ukraina merebut kembali teritori yang diduduki Rusia di wilayah Luhansk.

Wilayah-wilayah yang diklaim oleh Putin telah dianeksasi Rusia luasnya setara dengan sekitar 18 persen total wilayah daratan Ukraina.

Ketua majelis rendah parlemen mengatakan parlemen Rusia pada Senin (10/3/2022) akan mempertimbangkan draf undang-undang dan perjanjian ratifikasi untuk mengakui wilayah-wilayah itu.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini