Komnas HAM
Komnas HAM menyatakan, berdasarkan investigasi terkait Tragedi Kanjuruhan yang dilakukan, penyebab meninggalnya para Aremania (sebutan untuk pendukung kesebelasan Arema FC) adalah efek dari gas air mata.
"Kondisi jenazahnya sendiri secara fisik, ada beberapa yang sangat-sangat memprihatinkan dan ini menunjukkan sebenarnya kurang lebih menjadi potensi penyebab kematian," ucap Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam video berjudul 'Update Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM atas Peristiwa Kemanusiaan Stadion Kanjuruhan', Rabu 5 Oktober 2022).
Laporan Komnas HAM menguak jika kerusuhan tidak ditimbulkan karena suporter yang masuk ke lapangan. Choirul Anam menjelaskan, dua orang suporter turun dari tribune di bawah papan skor usai pertandingan pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya tersebut.
Setelah peluit ditiup wasit tanda berhentinya pertandingan di malam Minggu itu, ada dua orang supporter Arema, yang bisa dikenal sebagai Aremania, turun ke lapangan Stadion Kanjuruhan.

Suasana Stadion Kanjuruhan saat terjadi tragedi 1 Oktober 2022. (Foto: Avirista M/MPI)
Video yang diunggah akun Twitter @dede_dedot96, kedua orang Aremania itu tampaknya tidak bermaksud negatif. Mereka tampaknya ingin memberi dukungan, termasuk dengan memmberikan pelukan kepada dua pemain asing Arema FC, Sergio Silva dan Adilson Maringa.
Setelah itu, ratusan atau bahkan ribuan Aremania turun ke lapangan Stadion Kanjuruhan. Hal ini berujung kepada kerusuhan dan aparat yang akhirnya menembakan gas air mata, membuat para supporter berdesakan ingin keluar stadion.
Hal ini yang membuat aparat keamanan meningkatkan penanganan. Awalnya aparat hanya mengamankan beberapa suporter yang masuk tetapi kemudian gas air mata ditembakan. Choirul Anam menyebut bahwa situasi tidak langsung rusuh saat suporter masuk ke lapangan. Dia mengece suporter yang turun ke lapangan dan para pemain Arema FC.
"Kalau ada yang bilang eskalasi penangan itu timbu karena ruporter merangsek masuk ke dalam lapangan, sampai sore ini, kami mendapat informasi bahwa tidak begitu kejadiannya," kata dia.
Berdasarkan penelusurannya, dirinya mendapati bahwa tidak ada niat sama sekali dari suporter untuk membuat suasana jadi rusuh. Suporter yang awalnya turun ke lapangan itu hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain yang baru saja menelan kekalahan. Hal itu dibuktikan oleh para pemain yang tidak mendapatkan luka atau perlakuan tidak mengenakkan dari suporter