Share

Kisah Perjuangan Bilkis Bano Tuntut Keadilan Usai Dirudapaksa 11 Pria

Susi Susanti, Okezone · Rabu 19 Oktober 2022 09:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 19 18 2689976 kisah-perjuangan-wanita-muslim-bilkis-bano-tuntut-keadilan-usai-dirudapaksa-11-pria-umat-hindu-C8lv5TiLbA.jpg Bilkis Bano, korban rudapaksan 11 pria di India (Foto: AP)

INDIA - Sambil menahan air mata, Bilkis Bano, wanita muslim, menceritakan kengerian serangan pemerkosaan yang dialami saat sedang hamil dan pembunuhan 14 anggota keluarganya, termasuk putrinya yang berusia tiga tahun.

Menurut dokumen pengadilan, 11 pelaku pemerkosaaan adalah bagian dari kelompok umat Hindu yang menyerang Bilkis dan keluarganya selama kerusuhan anti-Muslim pada 2002 di negara bagian Gujarat di bagian barat.

Pagi hari setelah kebakaran kereta, Bilkis, yang saat itu berusia 19 tahun dan hamil anak kedua mengunjungi orang tuanya di sebuah desa bernama Randhikpur dekat Godhra bersama putrinya yang berusia tiga tahun.

Baca juga: Tak Disangka! India Bebaskan 11 Pria Hindu Pemerkosa Wanita Muslim yang Sedang Hamil, Tuai Banyak Kemarahan

"Saya sedang di dapur membuat makan siang, ketika bibi saya dan anak-anaknya datang berlari. Mereka mengatakan rumah mereka dibakar dan kami harus segera pergi," katanya, dikutip BBC.

"Kami pergi hanya dengan pakaian yang kami kenakan, kami bahkan tidak punya waktu untuk memakai sandal kami,” lanjutnya.

 Baca juga: India Bebaskan 11 Pria Hindu Terdakwa Rudapaksa Massal Wanita Muslim yang Hamil

Bilkis termasuk dalam kelompok 17 muslim yang terkena serangan membabi buta itu. Mereka yaitu putrid Bolkis berusia 3 tahun, ibunya, sepupu hamil, adik-adiknya, keponakan, dan dua pria dewasa.

Selama beberapa hari berikutnya, mereka melakukan perjalanan dari desa ke desa, mencari perlindungan di masjid atau hidup dari kebaikan tetangga Hindu.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Pada pagi hari tanggal 3 Maret, saat mereka berangkat ke desa terdekat yang mereka yakini akan lebih aman, sekelompok pria menghentikan mereka.

"Mereka menyerang kami dengan pedang dan tongkat. Salah satu dari mereka merebut putri saya dari pangkuan saya dan melemparkannya ke tanah, membenturkan kepalanya ke batu,” ujarnya.

Penyerangnya adalah tetangganya di desa, pria yang dia temui hampir setiap hari saat tumbuh dewasa. Mereka merobek pakaiannya dan beberapa dari mereka memperkosanya, mengabaikan permohonan belas kasihannya.

Sepupunya, yang melahirkan bayi dua hari sebelumnya saat mereka dalam pelarian, diperkosa dan dibunuh. Termasuk bayinya.

Bilkis selamat karena dia kehilangan kesadaran dan penyerangnya pergi karena yakin Bilkis sudah meninggal. Dua anak laki-laki - tujuh dan empat - adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian itu.

Perjuangan Bilkis untuk keadilan berlangsung lama dan mengerikan. Beberapa polisi dan pejabat negara mencoba untuk mengintimidasi dia, bukti dihancurkan dan orang meninggal dikuburkan tanpa pemeriksaan mayat atau autopsy. Para dokter yang memeriksanya mengatakan dia tidak diperkosa, dan dia menerima ancaman pembunuhan.

Penangkapan pertama dalam kasus tersebut dilakukan hanya pada 2004 setelah Mahkamah Agung India menyerahkan kasus tersebut kepada penyelidik federal. Pengadilan tinggi juga setuju bahwa pengadilan di Gujarat tidak dapat memberikan keadilannya dan memindahkan kasusnya ke Mumbai.

Perjuangannya untuk keadilan juga mengganggu keluarganya. Mereka terpaksa harus pindah rumah hampir belasan kali.

"Kami masih tidak bisa pulang karena kami takut. Polisi dan pemerintah negara bagian selalu membantu penyerang kami. Ketika kami berada di Gujarat, kami masih menutupi wajah kami, kami tidak pernah memberikan alamat kami," ungkap suami Bilkis, Rasool.

Selama persidangan, ada seruan hukuman mati bagi penyerang Bilkis, termasuk dari Bilkis.

Tetapi setelah pengadilan tinggi di Mumbai menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada mereka, Bilkis mengatakan kepada sang suami bahwa dia "tidak tertarik untuk membalas dendam" dan "hanya ingin mereka memahami apa yang telah mereka lakukan".

"Saya berharap suatu hari mereka akan menyadari besarnya kejahatan mereka, bagaimana mereka membunuh anak-anak kecil dan memperkosa wanita,” ujar Bilkis.

Tapi, dia menambahkan, dia ingin mereka "menghabiskan seluruh hidup mereka di penjara".

Setelah pembebasan mereka, Rasool mengatakan kepada surat kabar Indian Express bahwa istrinya ‘tertekan dan sangat sedih’.

"Pertempuran yang kami perjuangkan selama bertahun-tahun telah selesai dalam satu saat," katanya.

"Kami bahkan belum sempat memproses berita ini dan kami tahu bahwa para terpidana sudah sampai di rumah mereka,” tambahnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini