Share

Kisah Mengerikan Perang Saudara Ethiopia, Hewan Hyena Mengais-ngais Jenazah Penduduk saat Pasukan Tigray Mundur

Susi Susanti, Okezone · Rabu 19 Oktober 2022 12:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 19 18 2690175 kisah-mengerikan-perang-saudara-ethiopia-hewan-hyena-mengais-ngais-jenazah-penduduk-saat-pasukan-tigray-mundur-pfEzbbCDIF.jpg Hewan hyena mengais-ngais jenazah usai pasukan Tigray mundur (Foto: earth.com)

ETHIOPIAKawanan hewan Hyena terlihat mengais-ngais mayat penduduk desa dan kota yang terkena serangan udara. Yakni pria tua dan wanita muda yang mengikuti wajib militer.

Ini adalah kisah mengerikan yang muncul dari perang yang telah menewaskan hingga ribuan orang di wilayah bersejarah Ethiopia dari Tigray.

Wilayah ini dulunya merupakan objek wisata, dengan pengunjung tertarik ke gereja-gereja yang dipahat dari batu, tempat pemujaan Muslim, dan tulisan kuno dalam bahasa Ge'ez.

Sekarang Tigray adalah tempat perang yang kejam, karena tentara Ethiopia dan Eritrea di satu sisi, dan tentara Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di sisi lain, berjuang untuk menguasai wilayah yang telah lama dilihat sebagai kunci kekuasaan di Ethiopia - atau yang secara historis merupakan bagian dari Abyssinia.

Baca juga: 30 Mayat Mengambang di Sungai Akibat Perang

Tempat ini telah diblokade selama 17 bulan, tanpa layanan perbankan, telepon atau internet, dan tanpa akses media.

Baca juga:  Ethiopia Deklarasikan Gencatan Senjata Sepihak di Tigray

Selama dua tahun terakhir, nasib kedua belah pihak terus berubah di medan perang. Seperti diketahui, pasukan Ethiopia dan Eritrea merebut ibu kota Tigray, Mekelle, pada November 2020 setelah TPLF dituduh melancarkan pemberontakan.

Lalu warga Tigray meluncurkan serangan balasan di wilayah Amhara dan Afar yang berdekatan, membawa mereka dekat dengan ibu kota federal, Addis Ababa, sekitar setahun kemudian.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Pasukan Etiopia dan Eritrea merebut kembali wilayah di Tigray - termasuk kota utama Shire - dalam pertempuran terakhir, meningkatkan kemungkinan mereka mencoba merebut Mekelle sekali lagi.

"Setidaknya ada 500.000 tentara federal Eritrea dan Ethiopia dalam pertempuran aktif, ditambah 200.000 dari pihak Tigrayan," kata Alex de Waal, Direktur Eksekutif Yayasan Perdamaian Dunia yang berbasis di Amerika Serikat (AS), dikutip BBC.

Dia menambahkan bahwa setelah lebih dari 50 hari pertempuran tanpa henti, minggu ini garis pertahanan Tigrayan di sekitar Shire tidak bisa lagi bertahan karena kekurangan amunisi.

"Ini adalah kemunduran besar bagi warga Tigray. Ini membuat warga sipil terpapar pembantaian, pemerkosaan, dan kelaparan," kata Prof De Waal, meskipun pemerintah Ethiopia telah menjanjikan bantuan dan pemulihan layanan di Shire dan daerah lain di bawah kendalinya.

Shire mencerminkan krisis kemanusiaan di Tigray. Seorang pekerja bantuan mengatakan bahwa sekitar 600.000 warga sipil berlindung di kota dan daerah sekitarnya setelah sebelumnya melarikan diri dari daerah yang dilanda perang.

"Lebih dari 120.000 berada di tempat terbuka, tidur di bawah pohon dan semak-semak," katanya kepada BBC, berbicara dengan syarat anonim karena takut akan pembalasan.

Hampir semua pekerja kemanusiaan menarik diri dari Shire minggu lalu setelah dibombardir pasukan Ethiopia.

Ribuan penduduk juga melarikan diri dari Shire di tengah kekhawatiran bahwa mereka dapat menjadi sasaran kekejaman. Hal serupa juga terjadi di daerah lain yang berada di bawah kendali pasukan Ethiopia dan Eritrea.

"Empat saksi melaporkan bahwa di desa Shimblina pada bulan September, 46 orang ditangkap dan dieksekusi mati. Penduduk desa lainnya menemukan tubuh mereka tergeletak bercampur dengan hewan peliharaan, yang juga telah dibunuh," kata pekerja bantuan itu.

"Hyena telah memakan beberapa mayat, dan mereka hanya dapat diidentifikasi dari sisa-sisa pakaian mereka. Para saksi mengatakan mereka tidak punya waktu untuk mengubur mayat, dan hyena pasti sudah menghabisinya sekarang," lanjutnya.

Dia menjelaskan yang menonjol dari kekejaman itu adalah kenyataan bahwa sebagian besar korban berasal dari kelompok kecil etnis Kunama, yang tidak terlibat dalam konflik.

"Kedua belah pihak kehilangan tentara, dan ketika mereka datang ke sebuah desa, mereka melampiaskan kemarahan mereka pada penduduk setempat," tambahnya.

Pasukan Tigray menghadapi tuduhan serupa - termasuk pemerkosaan, pembunuhan di luar proses hukum dan penjarahan - selama pergerakan mereka ke Amhara dan Afar, sebelum didorong kembali ke Tigray. Wilayah ini memiliki populasi sekitar tujuh juta, jumlah yang kecil di negara dengan populasi lebih dari 100 juta.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini