NEW YORK – Rusia diduga menerima pasokan senjata peluru artileri dari Korea Utara (Korut) dan rudal buatan Iran. Para pengamat melihat pasokan ini dapat membantu Rusia meningkatkan bagian penting dari upaya perangnya di Ukraina, yakni pertarungan artileri di garis depan.
“Ini bisa menjadi perkembangan yang signifikan karena salah satu tantangan bagi Rusia adalah mempertahankan tembakan artileri,” kata Michael Kofman, Direktur Program Studi Rusia di Pusat Analisis Angkatan Laut, dikutip CNN.
Dia menekankan tidak memiliki pengetahuan tentang laporan intelijen yang mendasarinya. “Tentara Rusia kemungkinan telah menerima jutaan peluru pada saat ini,” ujarnya.
Baca juga: AS Tuduh Korea Utara Diam-Diam Pasok Peluru Artileri ke Rusia untuk Perang Ukraina
Dia menilai Rusia telah ‘mengimbangi defisit tenaga kerja dengan hasil kebakaran yang jauh lebih tinggi’, sebuah strategi yang katanya “mungkin sangat mahal untuk persediaan amunisi” dan telah membuat Rusia, seperti Ukraina, menjelajahi dunia untuk negara-negara dengan Soviet. -persediaan artileri kaliber yang kompatibel dengan sistemnya untuk mempertahankan perang.
Adam Mount, Direktur Proyek Postur Pertahanan di Federasi Ilmuwan Amerika, yang mengkhususkan diri di Korea Utara, mengatakan keadaan pasti dari persediaan amunisi konvensional Rusia tidak diketahui publik, tetapi Rusia ‘membakar puluhan ribu peluru sehari’.