Daryono menambahkan, menarik sekali bahwa ternyata jalur sesar yang digambarkan oleh Barber dan Simanjuntak tahun 1996 ada gempanya dan aktif. Sehingga, menarik tim ahli dari Institut Teknologi Bandung yang memanfaatkan data BMKG serta menggunakan alat sensor gempa untuk mendeteksi gempa di sesar ini.
“Ada sekitar 10 aktivitas gempa pada tahun 2019 sampai 2021. Dan itu gempa tidak besar, berkekuatan 2,3 dan 3,1. Namun, itu berada di jalur sesar yang digambarkan oleh Barber dan Simanjuntak pada tahun 1996,” ungkap Daryono.
“Artinya, ada sebuah bukti bahwa memang sesar yang dimaksud oleh Barber dan Simanjuntak itu aktif. Ini yang antara Bekasi dan Purwakarta ya,” tambahnya.
Meskipun, kata Daryono, untuk sebelah barat Bekasi, yakni Jakarta sampai ke Serang tidak terdeteksi ada aktivitas gempanya. “BMKG sama sekali tidak pernah mencatat gempanya. Tapi hasil monitoring penelitian tersebut ada sebuah peningkatan kompresi yang ada di selatan Jakarta dan itu diduga itu sebagai sebuah zona kuncian sesar dan sedang terjadi akumulasi,” katanya.
“Nah, terkait dengan informasi hasil kajian ini maka secara geofisika sesar ini terbukti aktif ya, tetapi seperti apa rincian jalur sesarnya itu belum dapat (diketahui). Baru tim ahli geologi saat ini sedang memetakan itu dan kita tunggu hasilnya sehingga terkait mana-mana yang dilewati jalur sesar itu, lebih baik kita menunggu hasil kajian ilmiah terkait,” tambahnya.