"Mereka benar-benar merasa ditinggalkan," kata Griffiths, seraya menambahkan bahwa dia fokus untuk menanganinya dengan cepat.
Washington meminta pemerintah Suriah dan semua pihak lain di negara itu untuk segera memberikan akses kemanusiaan kepada semua yang membutuhkan.
Lebih dari enam hari setelah gempa pertama terjadi, petugas darurat masih menemukan segelintir orang yang bertahan hidup di reruntuhan rumah yang telah menjadi kuburan bagi ribuan orang.
Gempa tersebut menempati urutan keenam sebagai bencana alam paling mematikan di dunia abad ini, jumlah kematiannya melebihi 31.000 dari gempa di negara tetangga Iran pada 2003.
Hingga Minggu, (12/2/2023) gempa itu telah menewaskan 29.605 orang di Turki dan lebih dari 3.500 di Suriah, di mana jumlah korban belum diperbarui selama dua hari.
Turki mengatakan sekira 80.000 orang berada di rumah sakit, dan lebih dari 1 juta di tempat penampungan sementara.
(Rahman Asmardika)