Meskipun demikian, ia tidak melarang apabila ada orang di wilayahnya akan masuk agama islam. Bhatoro Katong tidak puas atas jawaban demikian, dan terus memaksa agar Ki Ageng Kutu harus memeluk Islam. Akhirnya, mereka berselisih kata dan bertikai, sehingga pecah perang antara orang mukmin dan orang Buddha.
Perang berlangsung hingga bertahun-tahun dan saling mengalahkan. Kadang-kadang orang Buddha kalah, di lain waktu orang Islam yang kalah. Suatu ketika, Ki Ageng Kutu mengerahkan bala tentaranya dengan memanggil para pendeta dan pertapa di gunung untuk maju perang.
Sementara itu, Ki Ageng Kutu berperang pada malam hari. Konon tunggangannya banteng gagah perkasa, dengan lompatan sangat kuat dan jauh. Senjata Ki Ageng Kutu berupa tombak dan pedang. Pada suatu malam, ketika semua sudah siap, seluruh orang Buddha maju perang dengan dipimpin Ki Ageng Kutu dan ajar Gunung Bayangkaki.
Medan perang berada di sebelah utara Desa Nglawu, yang kini masuk sebuah dukuh di Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Ketika itu banyak orang Islam yang mati dan orang Islam kalah. Mereka yang selamat dari kematian melarikan diri dan mencari hidup, bersembunyi di hutan atau di desa-desa orang Islam.
Bhatoro Katong pun melarikan diri, terpisah dengan bala tentaranya, hingga tiba di Kali Tempuran. Setelah tahu orang-orang Islam melarikan diri dan tak tersisa, orang-orang Buddha pulang kembali ke rumah masing-masing. Bhatoro Katong sangat sedih. Dia kemudian kembali ke Demak untuk minta bantuan ke Sultan Demak kembali memberi bala tentara.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.