Kemudian ada juga dari Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga dan Tekhnik Akupresur dalam Upaya Pencegahan Stunting pada Anak (TANTE TIKA CANTIK), dan Pemberian Makanan Berbasis Pangan Lokal (BAIMAN BEPALA).
“Lima inovasi ini menjadi contoh program yang digagas oleh OPD untuk menurunkan kasus anak stunting dan kemiskinan di Kabupaten Tapin,” ujarnya.
Diakui Sekda juga, permasalahan kasus stunting juga dipengaruhi beberapa hal seperti kurangnya tenaga bidan dan tenaga pelaksana gizi (TPG), kurangnya alat USG dan perlu pelatihan dokter untuk penggunaan alat tersebut di Puskesmas, kurangnya alat antropometri kit di Posyandu yang mana alat ini sebagai pemantauan pertumbuhan balita yang stunting
Selanjutnya masih ada desa yang belum bebas stop buang air besar sembarangan (ODF), insentif Tim Pendamping Keluarga terlalu kecil, Rp10.000 untuk tiga orang sekali pendampingan, kurangnnya tenaga penyuluh KB di setiap kecamatan, dan Tapin hanya mempunyai 27 orang penyuluh KB idealnya Tapin memiliki 72 orang Penyuluh KB.
“Kurangnya tenaga kesehatan di Kabupaten Tapin menjadi salah satu permasalahan stunting di daerah, sehingga pemerataan faskes kurang memadai,” tuturnya.