JAKARTA - Danjen Kopassus, Mayjen Iwan Setiawan, memiliki pengalaman berkesan dan penuh haru saat mengikuti Ekpedisi Kopassus-Indonesia Everest pada 1997. Ia mengisahkan perjuangannya untuk dapat mendaki gunung tertinggi dunia tersebut.
Saat menjalani ekspedisi itu, Iwan pernah berada di posisi antara hidup dan mati. Kekuatan doa dan tekad sekuat baja akhirnya membawa mantan Danyon 22/Grup 2 Kopassus ini mengukir sejarah.
Danjen Kopassus Kala itu Brigjen TNI Prabowo Subianto menggagas Ekpedisi Kopassus-Indonesia Everest 1997. Ekpedisi kelas dunia ini untuk merayakan hari jadi ke-45 Kopassus dan menyambut HUT Kemerdekaan RI.
Ekpedisi melibatkan para pendaki terbaik Indonesia, mulai dari dari Kopassus maupun organisasi pencinta alam seperti Wanadri, hingga Mapala UI serta Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Berperan sebagai komandan lapangan adalah mendiang Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.
Iwan menceritakan ketika itu dirinya baru lulus pendidikan komando. Tak berselang lama diumumkan adanya seleksi Tim Ekspedisi Everest 97. Bagi prajurit Kopassus, tugas merupakan kehormatan segala-galanya.
Lulusan Akademi Militer 1992 itu pun mengikuti seleksi.
“Alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira Akmil yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” kata Iwan menceritakan kisahnya, sebagaimana diunggah akun YouTube TNI AD.
Iwan menyadari Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa. Fakta mencatat tidak semua orang yang mencoba menggapai puncak tertinggi dunia itu sukses. Bahkan mantan Danpusdikpassus ini mengibaratkan dari 100 pendaki yang naik ke Atap Dunia tersebut, kemungkinan hanya 10 yang berhasil.
“Dari 10 orang tersebut, kemungkinan tiga orang yang selamat,” ucapnya.