Bahkan, Belanda langsung memburu pemimpin pasukan yang menyerang tanggal 29 Desember malam itu. Mereka langsung menyebar telik sandi untuk mencari tahu siapa yang memimpin serangan tersebut.
"Belanda kaget, Ioh kok ada (serangan) katanya TNI sudah kalah, Republik sudah bubar bilangnya radio Belanda tapi kok saya diserang. Siapa ini kepalanya, siapa yang menyerang," ujarnya.
Pembantaian Massal di Kemusuk
Usai menyebar telik sandi, mereka baru mengetahui jika serangan tersebut adalah hasil karya Soeharto. Belanda kemudian mencari Soeharto ke tanah kelahirannya di Kemusuk.
Pencarian di Kemusuk mulai berlangsung sejak datangnya pasukan Belanda pada tanggal 6 Januari 1949. Saat itu, banyak masyarakat yang tidak mau memberitahu di mana keberadaan Soeharto hingga berujung pada pembunuhan secara massal atau genosida.
"Rakyat sini tidak tahu, semua tidak mengaku. Karena tidak mengaku digebukin, ditembak, dan dipaksa tetap tidak mengaku," ujarnya.
Kemudian pada tanggal 8 Januari 1949, Belanda kembali ke Kemusuk lagi dengan membawa pasukan lebih besar. Hingga terjadilah pembunuhan massal dan rumah-rumah dibakar. Dusun Kemusuk luluh lantak dibakar oleh Belanda.
"Itulah terjadi korban lebih dari 300 orang, tapi yang terkumpul oleh Pak Probosutejo tahun 1991 ada 202 (korban) yang sekarang dimakamkan di makam Somenggalan," lanjut Lukman.
Dan hari Selasa ini, pihaknya memperingati peristiwa Kemusuk-Somenggalan, di mana ada banyak warga yang meninggal dunia karena tentara Belanda. Dan dia berharap peristiwa yang terjadi di Kemusuk sebelum Serangan Umoem 1 Maret ini menyadi catatan sejarah yang diingat bangsa Indonesia.
Penulis sejarah dari YKCB menambahkan peristiwa Kemusuk-Somenggalan muncul karena Belanda terusik dengan serangan sebelumnya yang dilakukan Letkol Soeharto yakni 29 Desember 1948 di Kantor Pos Besar, Ngabean, Patuk, Sentul dan Pengok. Disebutkannya, Belanda mencari Soeharto di Kemusuk, namun tidak ditemukan hingga akhirnya mereka membakar desa dan membunuh 202 warga.
"Desa Kemusuk berubah menjadi ladang pembantaian, genosida ini bisa dikategorikan dalam pelanggaran HAM yang berat. Peristiwa Kemusuk juga menandai perjuangan Soeharto memimpin lima kali serangan yakni 29 Desember 1948, 9 Januari 1949, 16 Januari 1949 dan 4 Februari 1949 juga 1 Maret 1949 yang membuka mata dunia," jelasnya.