Kecuali polisi Palestina di wilayah yang mereka tangani, warga sipil Palestina yang tinggal di Tepi Barat tidak diizinkan membawa senjata. Mereka membela diri hanya dengan obor dan ponsel. Ketika serangan terjadi, mereka juga sering kalah jumlah.
"Allah adalah satu-satunya senjata kami," kata Fuad. "Yang kami inginkan hanyalah agar serangan ini berhenti."
Tahun lalu, Fuad terluka saat berusaha melindungi tetangganya dari penyerangan di desanya.
"Hanya ada empat dari kami dan mereka berkelompok besar. Saya menerima lima jahitan di kepala saya."
Tapi Fuad beruntung. Pada 2014, salah satu warga tewas dalam serangan pemukim. Fuad mengatakan tentara Israel yang hadir tidak melakukan apapun untuk melindungi desa tersebut.
"Tentara Israel melindungi para pemukim, bukan warga Palestina," tambahnya.
Seorang juru bicara tentara Israel mengatakan kepada BBC bahwa penduduk seperti Amal dapat melaporkan tindakan kekerasan dan pasukan Israel diminta untuk bertindak.
Namun menurut organisasi hak asasi manusia Israel, Yesh Din, sejak tahun 2005 hanya 3% dari semua penyelidikan Israel, terhadap apa yang digolongkan sebagai 'kejahatan bermotivasi ideologis' di Tepi Barat, telah mengarah pada hukuman.
(Rahman Asmardika)