Dengan pikiran polos, Soegito pun menuruti perintah bapaknya. Dalam tiga kali sayatannya, ketiga potongan daun sirih itu ndilalah masuk ke dalam gelas.
"Alhamdulilah Gito," ujar si bapak, yang membuat Soegito bengong apa maksudnya.
Tanpa menunggu putranya bertanya lebih jauh, Soeleman pun menjelaskan. "Kamu jadi alat negara, kamu meninggal tidak dalam tugas."
Mendengar itu, sang ibu yang duduk tidak terlalu jauh, langsung nyeletuk.
"Alah, percaya sama Gusti Allah saja Gito."
Walaupun ongkos jalan dan penginapan di Semarang mendapat penggantian dari Panitia Seleksi AMN, tetap saja masih diperlukan biaya tambahan.
Oleh sebab itu, Soegito menjual sepedanya yang telah dipakainya selama lebih dari tiga tahun, yaitu sejak di SMP Cilacap sampai SMA di Purwokerto. Namun, ujian belum usai. Saat datang panggilan terakhir ke Semarang di tahun 1958, setiap calon harus membawa ijazah asli kelulusannya.
Untuk itu ia harus menghadap kepala sekolah untuk mengambil ijazah. Kepala Sekolah Soemarno pun membuka catatannya.
"Wah, Gito kamu belum melunasi pembayaran uang gedung," ujarnya datar.
"Tapi maaf saya sudah tidak punya uang lagi Pak karena sudah bolak-balik ke Semarang dan besok harus kembali ke Semarang terus ke Cimahi," jawab Gito.
"Tapi siswa Gito harus membayarnya, bagaimana," suara Pak Marmo meninggi.
Namun, Gito pun meyakinkan kepala sekolah tersebut.
"Pak, saya benar-benar sudah tidak punya uang," pinta Soegito.
"Ya sudah, nih," jawab kepala sekolah sambil menyodorkan ijazahnya dengan agak terpaksa.
Selain harus mengantongi ijazah, seorang calon sudah harus membawa surat keterangan tanda persetujuan dari orang tua untuk mengikuti pendidikan AMN. Namun, karena perjalanan ke Cilacap dari Purwokerto butuh ongkos dan waktu, Gito akhirnya memalsukan tandatangan ayahnya.
Alhasil setelah surat keterangan orang tua selesai diketik, tanpa kesulitan Soegito membubuhkan tanda tangan bapaknya di lembar persetujuan.
"Selain ngirit, saya masuk AMN kan atas risiko saya dan kalau terjadi apa-apa kan urusan saya," Soegito beralasan.
Panggilan terakhir yang ditunggu pun datang. Ini merupakan jawaban bahwa Soegito termasuk yang terpilih untuk mengikuti seleksi tahap akhir di Cimahi, Bandung. Pada hari yang ditentukan, Soegito telah berada di tempat seleksi calon taruna di Semarang.
Di sini dikumpulkan semua calon taruna yang berasal dari Jawa Tengah, sekitar 100-an orang. Mereka kemudian diberangkatkan ke Cimahi dengan menumpang kereta api.