Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Jenderal Kopassus Jual Sepeda hingga Palsukan Tanda Tangan Orangtua untuk Daftar Akmil

Tim Okezone , Jurnalis-Rabu, 01 Maret 2023 |06:02 WIB
Kisah Jenderal Kopassus Jual Sepeda hingga Palsukan Tanda Tangan Orangtua untuk Daftar Akmil
Soegito (Ist)
A
A
A

Terdapat ratusan orang calon taruna saat itu berkumpul di Garnisun Cimahi dari seluruh Indonesia. Sejak tiba di Cimahi, mereka mulai mendapatkan suasana yang berbeda. Mereka untuk pertama kali mengenal tradisi kemiliteran seperti apel. Setiap pagi mereka juga harus melaksanakan senam pagi di tengah dinginnya udara Cimahi sambil bertelanjang dada, mengenakan pakaian dinas yang selalu kedodoran atau menyandang senapan Lee Enfield (LE) yang melecetkan pundak mereka.

Melewati masa pengujian akhir di Cimahi ini cukup melelahkan. Namun, Soegito dapat menyelesaikan setiap ujian yang dilaluinya. Mampunya Soegito melewati setiap tahap seleksi fisik, tentu tidak terlepas dari kegemarannya berolahraga. Kelenturan tubuhnya mungkin menjadi kelebihannya dibanding teman-temannya yang mengikuti seleksi waktu itu. Wajar saja, senam merupakan salah satu olahraga yang disukainya.

Meliuk-liukkan badan di atas kuda-kuda dan keseimbangan balok plus salto bisa dilakukannya. Semua kelebihan dalam olah fisik ini sangat dirasakan manfaatnya ketika ia menjadi anggota Kopassus. Di akhir masa seleksi diumumkanlah hasilnya. Disampaikan bahwa peserta yang dinyatakan lulus berjumlah 170 orang.

Setelah dinyatakan lulus, mereka kembali naik kereta api dari Bandung ke Yogya. Setiap orang sudah mengenakan seragam militer. Bukan kembali ke rumah masing-masing, tapi langsung ke Lembah Tidar, di mana AMN berada. Terbayang betapa lelahnya mereka karena nyaris tidak sempat beristirahat.

Soegito pun membenarkan bahwa kondisi mereka selama seleksi di Cimahi cukup menderita, sehingga umumnya sudah merasa malas dan tidur saja selama di perjalanan. Bahkan sampai hari itu pula, kebanyakan dari mereka belum sempat berkirim surat kepada orang tua masing-masing. Namun menurut Soegito, pilihan ini justru lebih masuk akal. Bayangkan kalau mereka harus pulang kampung terlebih dahulu.

Dengan kondisi moda transportasi saat itu yang jauh dari memadai, berapa lama waktu yang harus mereka habiskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan kembali berkumpul di Magelang. Dalam satu kesempatan bersama keluarga setelah menjadi taruna, Soegito menerima banyak ucapan selamat dari kakak dan adiknya serta dari sanak saudara. Salah seorang pamannya bilang.

"Gito kamu nanti jadi officier." Pamannya yang lain lebih spontan, "Kowe pantas jadi tentara lah wong dulu nakal."

Bapak Soeleman juga tidak lupa memberikan selamat dan berpesan, "Kamu tidak boleh sombong, tidak boleh sembarangan, selalu berbuat baik."

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement