DIY - Next Hotel anggota MNC Group mengundang puluhan warga Panti Asuhan Bina Siwi, Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Dengan menggunakan bus eksekutif yang disewa oleh Next Hotel, puluhan anak warga Panti Asuhan Bina Siwi dan juga 9 pengasuhnya tiba, Sabtu (1/4/2023) sore
Raut sumringah terpancar dari anak-anak ketika turun dari bus. Dua orang terpaksa harus dibantu warga panti lainnya karena seorang menderita cerebral palsy dan seorang lagi harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Nampak pula di antara mereka yang menderita down sindrom.
Kegembiraan nampak terpancar dari mereka, bahkan ketika grup musik dari panti asuhan Bina Siwi ini memainkan alat musik yang mereka bawa. Warga Panti Asuhan Bina Siwi ini larut ikut bernyanyi.
Sugiman, salah seorang pengasuh Panti Asuhan Bina Siwi mengakui memang semua adalah penyandang disabilitas. Di antaranya adalah difabel netra, tuli, cerebral palsy, Down Syndrome, serta difabel intelektual, dengan rentang usia 12 hingga 40 tahun.
"50 persen anak-anak. Tapi semuanya bisa dibilang anak-anak karena meskipun usia sudah dewasa tetapi perilakunya masih kayak anak-anak," ujar dia.
Selain menyandang disabilitas, mereka ini juga sudah tidak memiliki keluarga lagi alias yatim piatu. Penghuni Panti asuhan ini sudah tidak bisa mengembangkan dirinya di rumah sehingga pihaknya memberikan pelayanan yang terbaik terhadap anak-anak
Panti Asuhan Bina Siwi mulai berdiri tahun 1989. Tidak tergantung dengan subsidi, baik dari pemerintah maupun perorangan, Panti Asuhan Bina Siwi ini tetap beroperasi. Caranya adalah dengan berwirausaha memproduksi berbagai barang kerajinan, menjadi cara panti yang menampung 39 orang difabel itu berdaya.
"Produk yang dihasilkan mulai dari sandal hotel, boneka, jepitan, kipas, tas, bunga, asesoris, hingga batik," terangnya.
Panti Asuhan Bina Siwi beralamat di Komplek Balai Desa Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta. Panti Asuhan swasta ini merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) milik masyarakat setempat, di bawah naungan Yayasan Ngudiraharjo.
Selain mengelola Panti Asuhan, yayasan yang mulai beroperasi sejak 1989 ini juga mengelola sekolah luar biasa (SLB) dan pelayanan bagi orang jompo atau lanjut usia (lansia). Selain dirinya, panti asuhan ini juga diinisiasi oleh Djuminten, Mugiyanti, Panti dikelola bersama beberapa pengurus yang mendedikasikan hidup mereka bagi para difabel yang tinggal di dalamnya tidak punya sanak-saudara.
Selain memproduksi kerajinan untuk bertahan hidup, anggota panti juga dilatih berkesenian. Tiga kesenian yang telah dikuasai dan beberapa kali dipentaskan ialah karawitan, campur sari dan angklung. Satu lagi berkesenian hadroh, seperti yang menjadi suguhan saat acara buka puasa bersama para pengunjung panti.
Ide untuk mendirikan panti asuhan difabel ini bermula ketika Sugiman bersama dengan Mugiyanti yang sama-sama alumni PLB-UNY melihat ada penyandang difabel yang terlantar. Setamat kuliah mereka berinisiatif untuk memperhatikan secara khusus, menumbuhkan kepercayaan diri, mengajarkan hidup layak, sebagaimana orang lainnya.