Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Pembebasan Sandera Mapenduma, Upaya Mediasi Buntu Berujung Penyerbuan 400 Pasukan Elite

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 17 April 2023 |04:04 WIB
Sejarah Pembebasan Sandera Mapenduma, Upaya Mediasi Buntu Berujung Penyerbuan 400 Pasukan Elite
Korban penyanderaan Mapenduma. (Foto: Garuda Militer)
A
A
A

Isinya, para sandera meminta ABRI untuk tidak bertindak gegabah. Belakangan, dari surat itu diketahui bahwa Inggris, Belanda dan Jerman juga tengah melakukan upaya pembebasan warga negara mereka masing-masing. Bahkan, kantor berita Reuters mengungkap adanya tiga orang detektif Inggris yang berasal dari Scotland Yard di Irian Jaya.

Kapuspen ABRI ketika itu mengaku tak tahu menahu perihal keberadaan ketiga detektif itu. Bagi ABRI, Inggris boleh saja berpartisipasi dalam upaya pembebasan sandera, asalkan mereka tetap menghargai kedaulatan Indonesia.

Bukan hanya otoritas resmi. Keluarga sandera asal Inggris pun ikut bersuara. Lewat BBC Indonesia di London, mereka meminta kepada para penyandera untuk membebaskan anggota keluarga mereka. Terkait itu, Kodam Trikora menginformasikan bahwa otoritas di Indonesia tengah melakukan pendinginan, termasuk dalam hal pemberitaan di media massa.

Pada 7 Februari 1996, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengirimkan sebuah tim untuk membantu upaya pembebasan sandera. Saat itu, dilaporkan bahwa lokasi penyanderaan telah berpindah, dari Mapenduma ke Geselama, desa lain di Kecamatan Tiom. Mediasi berbuah manis. ICRC berhasil menemui Kogoya di lokasi penyanderaan. Pertemuan ini menjadi pertemuan yang pertama sejak Kogoya dan Kwalik memutuskan hubungan mediasi dengan ABRI pada 25 Januari 1996. Titik terang mediasi kembali menyala.

Dalam pertemuan itu, ICRC meminta pembebasan sandera dengan damai dilakukan pada 25 Februari 1996. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kogoya. Ia mengatakan, pembebasan tak dapat dilakukan tanpa izin dari pimpinan OPM di Papua Nugini.

Mediasi antara ICRC dan para penyandera terus berjalan. Perlahan, pasang dan surut, pembebasan para sandera terus diupayakan. Kogoya sempat menitipkan sebuah roll film berisikan foto-foto kondisi para sandera. Selain itu, para penyandera juga meminta agar pembebasan sandera nantinya dihadiri oleh perwakilan negara masing-masing sandera dan diabadikan dalam sebuah video.

Upaya mediasi mulai terasa tawar. Pada 26 Februari 1996, sebuah informasi menyebut bahwa para sandera ditempatkan di dalam sebuah gua dijuluki "gua kelelawar". Menurut informasi, gua kelelawar berada di ketinggian tujuh meter dan hanya bisa dijangkau lewat titian anak tangga.

Pada 29 Februari 1996, para ICRC berhasil menemui para sandera di sebuah gubuk di Desa Geselama.

Pada pertemuan ini, Kogoya mengirimkan pesan kepada Tim Satgas bahwa pihaknya baru akan mempertimbangkan kemungkinan pembebasan sandera setelah berkomunikasi dengan pimpinan OPM di Papua Nugini. Selang beberapa hari kemudian, Kogoya dan Kwalik mengeluarkan pernyataan lebih keras. Mereka menyatakan tak akan membebaskan para sandera, kecuali pemerintah mengakui kemerdekaan Republik Papua Barat.

Selanjutnya, pada 4 Maret 1996, Moses Weror, pemimpin dewan revolusi OPM mengumumkan bahwa pemimpin umat Katolik sedunia Paus Johanes Paulus II telah mengirimkan surat kepada Kelly Kwalik dan Kogoya. Paus, melalui suratnya meminta agar para sandera segera dibebaskan. Esokan harinya, Moses menyatakan keinginan untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Sejumlah nama disebut oleh Moses, mulai dari Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR/DPR, Wahono dan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Moses ingin nama-nama tersebut dihadirkan dalam negosiasi nantinya.

Pada upaya mediasi kali itu, Moses menyebut batas waktu pembebasan sandera adalah bulan September 1996, berbarengan dengan Sidang Majelis Umum PBB. Moses mengatakan, negosiasi ini akan menjadi negosiasi pamungkas yang menentukan nasib para sandera.

Setelah pertemuan dua hari dengan ICRD di Port Moresby, Papua Nugini, Moses memerintahkan Kwalik dan Kogoya untuk membebaskan para sandera. Moses beralasan, penyanderaan yang telah berlangsung lama telah berhasil menyita perhatian dunia internasional. Selain itu, Moses merasa puas lantaran ICRC berjanji akan membuka perwakilan di Irian Jaya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement