Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sutan Sjahrir yang Mesra dengan Penderitaan, Wafat sebagai Tahanan Politik di Negara yang Diperjuangkannya

Solichan Arif , Jurnalis-Minggu, 23 April 2023 |12:04 WIB
Sutan Sjahrir yang Mesra dengan Penderitaan, Wafat sebagai Tahanan Politik di Negara yang Diperjuangkannya
Sutan Sjahrir/Foto: Istimewa
A
A
A

Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya, Mohamad Rasad seorang jaksa kepala (landraat) di Pengadilan Negeri. Sedangkan ibunya, Poetri Siti Rabiah berasal dari Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.

Perawakan Sjahrir yang cenderung pendek dan berbakat gemuk, yakni 160 cm, bersorot mata ramah bersahabat serta suka ketawa lepas, membuatnya mendapat julukan Bung Kecil.

Julukan itu diperoleh saat menjabat Perdana Menteri Indonesia. Sjahrir melihat politik sebagai tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebagai pendiri sekaligus ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI/1948), Sjahrir tidak pernah memandang politik sebagai tujuan. Dan bahkan kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir politiknya.

Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional hanyalah jalan mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsa. Sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.

“Politik menjadi perkara yang luhur, dan ilmu pengetahuan akan terbuka cakrawalanya seluas kaki langit karena pikiran dan jiwa sanggup menerobos batas-batasnya sendiri”.

Pandangan-pandangan politik, termasuk keengganannya melakukan aksi massa sebagaimana yang dilakukan Soekarno atau yang diusulkan Tan Malaka, yakni menggerakkan rakyat dengan agitasi politik, membuat Sjahrir sulit dimengerti.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement