“Waktu itu kan orang laki semua yang dibantai. Tinggal warga perempuan semua. Sampai malam tentara Belanda masih di sekitar kampung. Itu si Solih yang bersandar di bawah pohon, meringis minta tolong, minta minum, haus katanya,” timpal Syaifulloh.
“Tapi enggak ada yang berani menolong. Masih pada takut sama Belanda. Semalaman dia bersandar di bawah pohon, sampai besoknya udah enggak bernyawa. Mungkin dia meninggal kehabisan darah,” tandasnya.
Kisah ini hanya satu petikan cerita yang selama ini tercecer dan bisa dibilang belum terungkap dari sebuah kawasan di pinggir timur Kota Jakarta di masa revolusi 1945-1949 itu. Kisah yang menyerupai pembantaian lebih dari 400 warga sipil di Rawagede.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.