Perjanjian itu antara lain menyebut gencatan senjata akan diawasi oleh OSCE. Semua pasukan asing harus mundur dari wilayah konflik, pertukaran tahanan dan sandera, mundurnya semua pejuang asing dari wilayah Ukraina, amnesti bagi kaum pemberontak dan janji bahwa daerah-daerah separatis akan memiliki status otonomi. Namun kesepakatan itu ternyata tidak tahan lama, pertempuran kembali pecah sampai Februari 2015.
Selain itu pada tahun 2023, Pemerintah Rusia kembali mengungkap alasan melakukan operasi militer khusus di Ukraina. Rusia mengatakan operasi militer itu dilakukan agar Ukraina tak bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Rusia telah melakukan operasi militer khusus ke Ukraina sejak Februari 2022. Artinya militer Rusia dan Ukraina telah bertempur kurang lebih selama 14 bulan.
"Jika tidak, itu akan menimbulkan ancaman serius dan signifikan bagi negara kami," klaim juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam pengarahan pers dikutip Anadolu.
Para analis Barat mengatakan ketika Rusia melancarkan perang pada Februari 2022, Ukraina sama sekali tidak ingin bergabung dengan aliansi tersebut. Namun, September lalu, Ukraina secara resmi mengajukan keanggotaan NATO, meski tidak jelas kapan atau apakah akan diterima.
(RIN)
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.