Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kala Slamet Rijadi Buat Tobat 2 Kompi Gerilyawan Pengikut PKI

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 03 Juli 2023 |07:01 WIB
Kala Slamet Rijadi Buat Tobat 2 Kompi Gerilyawan Pengikut PKI
Patung Slamet Riyadi. (Foto: Randy Wirayudha)
A
A
A

JAKARTA – Pasca pecahnya Madiun Affair 1948, suasana di Indonesia masih mencekam dan tak stabil akibat kerancuan mengenai siapa lawan dan siapa akibat pemberontakan yang dipimpin Muso itu. Di tengah suasana tersebut, Overste (Letkol) Ignatius Slamet Rijadi mendapat perintah untuk membuat dua kompi gerilyawan terpengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) bertobat.

 BACA JUGA:

Pada 23 September 1948, Slamet Rijadi yang sedang berada di Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah diperintahkan untuk menemui Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto. Slamet Rijadi pun bergegas pergi ke Balai Kota Solo dimana Kolonel Gatot berada.

“Kolonel Gatot Soebroto, mengapa memanggil saya dengan sangat mendadak?” tanya Slamet Rijadi, sebagaimana termaktub di buku ‘Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS’.

Pemanggilan itu memang tidak diduga-duga dan tak lama setelah terjadinya kesalahpahaman antara anak buahnya dengan Pasukan Siliwangi. Kesalahpahaman ini bahwa menyebabkan du mulut antara Komandan Brigade Siliwangi, Kolonel Sadikin dengan Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman.

Meski peristiwa itu tampaknya sudah mulai selesai, Slamet Rijadi masih merasa cemas ketika dipanggil Kolonel Gatot. Dia pun menitip pesan pada anak buahnya, bahwa jika pada pukul empat sore dia belum kembali ke markasnya, pasukannya diperintah mencarinya ke Balai Kota Solo.

Tapi pertemuan Kolonel Gatot dengan Slamet Rijadi bukan membahas peristiwa dengan Pasukan Siliwangi itu, melainkan soal perintah Pangsar Soedirman untuk menyelesaikan Madiun Affair atau yang kini disebut Pemberontakan PKI Madiun 1948.

“Sekitar dua kompi anak buah Mayor Soedigdo menurut laporan sudah terinfiltrasi merah (PKI/Front Demokrasi Rakyat atau FDR) dan akan segera menyeberang ke Madiun. Kembalikan mereka ke pangkuan Ibu Pertiwi!” begitu perintah Kolonel Gatot.

Slamet segera mengerjakan perintah itu dan berangkat ke markas Batalion Soedigdo di Wonogiri, bersama Kapten Soetanto Wirjosapoetro, Kapten Ari Amangku dan Kapten Tjokropranolo (Noly) dengan meminjam mobil Komandan Polisi Tentara, Kolonel Soenarjo.

Misi ke Wonogiri pun perjalanannya relatif lancar, meski waktu itu mereka juga sangat waspada jika melewati berbagai pos penjagaan. Karena–sekali lagi, mereka tak tahu siapa lawan, siapa kawan.

Sesampainya di Wonogiri, rombongan Slamet Rijadi segera mencegat pergerakan pasukan Soedigdo di wilayah Tirtomoyo, kota kecil yang berada di tengah-tengah Wonogiri dan Madiun. Seketika bersua, Soedigdo dan anak buahnya pun ternyata mau diajak kembali.

Mereka pun akhirnya dibawa ke Paras, Boyolali, tepatnya di lereng Gunung Merbabu, demi menjauhkan mereka dari FDR Madiun. Di tempat itu pula, Kolonel Gatot Soebroto kemudian melakukan inspeksi.

Sebuah upaya yang sukses untuk mencegah dua kompi petarung yang nyaris ikut memperkuat PKI/FDR di Madiun. Di satu sisi, keberhasilan Slamet Rijadi ini juga membuktikan keyakinan Gatot Soebroto, bahwa jiwa Slamet Rijadi masih ‘Merah Putih’.

(Rahman Asmardika)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement