Pada Agustus 1945, Foster diundang oleh komandan detasemen OSS di Sri Lanka, Kolonel John Coughlin ke bungalownya. Pada pertemuan itu, Foster ditawari untuk menjadi sukarelawan untuk melaporkan perkembangan transisi pasca perang di Jawa. Sejak saat itulah, Jane Foster mulai memata-matai Indonesia.
Meski begitu, Indonesia bukanlah tempat asing baginya. Pada tahun 1936 dirinya sempat tinggal di Jawa setelah menikah dengan seorang diplomat Belanda, Leendert Kampert. Namun setelah bercerai, Foster kembali ke Amerika.
Setibanya di Indonesia untuk menjalankan misinya, Foster melakukan sebuah pertemuan bersama dengan para pejabat Indonesia pada 28 September 1945 di kediaman Menteri Luar Negeri, Achmad Soebardjo. Pada pertemuan itu, Jane Foster bersama Letkol K.K. Kennedy dari pasukan sekutu mewawancarai para pejabat untuk mengetahui pandangan mereka.
Beberapa tokoh yang hadir di pertemuan itu antara lain adalah Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, Iwa Kusumasumantri, dan Tan Malaka yang menyamar sebagai Kasman Singodimedjo.
Sesudah pertemuan itu, Foster segera kembali ke markas untuk memberi laporan. Dalam laporannya, Foster menjelaskan bahwa Indonesia tidak terlibat dalam rencana besar Rusia ataupun Jepang. Foster juga menyebutkan bahwa Indonesia tidak merencanakan revolusi, melainkan ingin membicarakan perdamaian.