JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat yang dapat mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia dalam sepekan kedepan. Peringatan dini ini telah dikeluarkan oleh BMKG sejak 4 Juli dan diperbarui pada 8 Juli 2023 lalu.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati pun menjelaskan hujan yang masih bisa berpotensi terjadi meskipun sedang di musim kemarau.
“Jadi musim kemarau ini kriterianya adalah curah hujan rata-rata bulanan, di mana curah hujan rata-rata bulanan ini sangat rendah, dapat mencapai hanya 20 mm dan bahkan dapat 0 mm dan ini skala waktunya adalah skala waktu bulanan sampai 5-6 bulan,” kata Dwikorita dalam keterangannya, Senin (10/7/2023).
Dwikorita pun mengungkapkan tiga pemicu hujan lebat yang terjadi pada musim kemarau ini. Pertama yakni adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), kemudian gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin.
Diketahui, MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin merupakan fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya pola konvektifitas dan dapat menimbulkan potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah fase aktif yang dilewatinya.
“Di dalam satu bulan itu bisa terjadi fenomena yang sifatnya lokal atau sub regional atau regional dengan skala waktunya harian, harian sampai 1 minggu yaitu misalnya saat ini terjadi aktifnya Madden Julian Oscillation serta gelombang ekuator atau gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial di sekitar wilayah Indonesia yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan secara tidak langsung meningkatkan potensi curah hujan tinggi tapi ini hanya dalam skala waktu beberapa hari sampai sepekan kedepan,” jelas Dwikorita.