Harta pribadi Bung Karno yang ia tinggalkan di Istana saat diasingkan oleh rezim baru, sebatas hanya didata. Namun, barang-barangnya raib entah ke mana.
Bung Karno memang berangkat bukan dari kalangan borjuis. Di masa kecilnya, sudah hidup prihatin.
"Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari keran,"
"Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih,” ungkap Bung Karno, dikutip Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).
Saat Bung Karno tidak menjabat sebagai Presiden, anak-anaknya tidak pernah mewarisi harta Bung Karno yang berlebihan. Mereka juga harus bekerja untuk menopang hidupnya.
"Guntur dipaksa berhenti sekolah, dan bekerja membantu ibunya. Mega, Rachma, Sukma hidup bersama suaminya. Mereka masih sering berkumpul di rumah ibunya, di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan," kata Roso.