Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Korban dan Pelaku Mutilasi Sleman Diduga LGBT, Kriminolog Ungkap Hal Mengejutkan

Diana Aslamiyyah , Jurnalis-Selasa, 25 Juli 2023 |19:00 WIB
Korban dan Pelaku Mutilasi Sleman Diduga LGBT, Kriminolog Ungkap Hal Mengejutkan
Tersangka Mutilasi Sleman/Foto: MNC Portal
A
A
A

JAKARTA- Kedua pelaku mutilasi di Sleman, yakni W dan RD telah diamankan polisi. Meskipun begitu, motif kedua pelaku masih menjadi misteri.

Sebelumnya, Direskrimum Polda DIY Kombes FX Endriadi menjelaskan, bahwa korban R dan kedua pelaku tergabung dalam sebuah komunitas yang memiliki aktivitas tak wajar. Mereka melakukan kegiatan kekerasan satu sama lain, yang akhirnya mengakibatkan korban meninggal dunia.

Namun polisi enggan membeberkan mengenai komunitas dan aktivitas kekerasan yang dilakukan oleh korban dan kedua pelaku secara lebih rinci.

Hal ini menyebabkan banyaknya dugaan yang muncul ditengah masyarakat. Banyak yang kemudian berspekulasi bahwa korban dan kedua pelaku terlibat dalam hubungan sejenis serta melakukan aktivitas terkait sadomasokisme sebelum korban meninggal dunia.

Dugaan-dugaan ini mengakibatkan banyaknya masyarakat yang tidak bersimpati dengan korban, sebab dianggap sebagai pelaku hubungan sesama jenis. Hal ini dapat dilihat melalui komentar warganet dibeberapa postingan mengenai kasus mutilasi tersebut.

Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala, menuturkan bahwa hal ini wajar saja terjadi sebab pelaku aktivitas seksual seperti ini memang cenderung ditolak masyarakat.

“Wajar. Pelaku aktivitas seksual begini memang cenderung ditolak publik. Analoginya, "elu punya gawe, kok gue yang dibikin pusing"” ujar Adrianus Meliala, kepada Okezone, dikutip Selasa (25/7/2023).

Di sisi lain, Adrianus juga menjelaskan soal sadomasokisme yang merupakan kegiatan terkait hubungan seksual dimana mesti ada foreplay berupa menyakiti pasangan. Rasa sakit yang muncul konon bersifat pleasure increasing, yakni meningkatkan kesenangan.

Meskipun berkaitan dengan kekerasan, pelaku sadomasokisme tidak dapat dikatakan rentan melakukan kejahatan, sebab biasanya mereka telah membentuk sebuah komunitas yang tidak mudah dimasuki orang luar.

“Biasanya mereka sudah membentuk komunitas yang close-knit alias tidak gampang dimasuki orang luar. Atau mengajak orang luar. Jadi, kalau terjadi kejahatan, ya kemungkinan besar antar mereka sendiri” ujarnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement