JAKARTA - Pesanan dua unit kapal pemburu ranjau telah tiba di Indonesia pada bulan Juli setelah berlayar dari tempat pembuatannya di Galangan Abeking & Resmussen, Lamwerder-Bremen, Jerman. Hal tersebut diungkap Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI) Laksamana Madya Herru Kusmanto.
Rencananya, kata Herru, dua unit kapal perang pemburu ranjau bernama KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732 itu, akan diserahkan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) ke Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), dan langsung ditempatkan di Koarmada II.
"Terkait dengan penambahan dua alutsista yang sudah diluncurkan hampir satu bulan lalu dari Jerman, itu sudah berada di Surabaya," kata Herru usai acara serah terima jabatan (sertijab) strategis di lingkungan Koarmada RI, Jakarta, Rabu (9/8/2023).
"Dan insya Allah KRI Fani dan KRI Fanildo akan diserahkan pada hari Senin nanti dari Kementerian Pertahanan kepada Bapak KSAL dan langsung ke Koarmada II," sambungnya.
Sebelumnya, KSAL Muhammad Ali menjelaskan, dua unit kapal perang pemburu ranjau jenis Mine Counter Meassure Vessel (MCMV) itu, akan langsung ditempatkan di Koarmada II.
Kemudian untuk kapal pemburu ranjau yang sudah ada di Koarmada II, kata Ali, akan dipertimbangkan untuk disebar ke Koarmada lain yang belum memiliki kapal pemburu ranjau.
"Nanti kita tinggal memikirkan untuk kapal buru ranjau yang lama mungkin akan didispersi ke Armada yang lain. Karena dalam rangka penyeragaman, dan penyetaraan dari armada-armada," kata Ali saat ditemui di Mako Kolinlamil, Jakarta Utara, Senin (3/7/2023).
Diketahui, kapal tersebut didelivery oleh Laksamana Muhammad Ali di Galangan Abeking & Resmussen, Lamwerder - Bremen, Jerman pada Jumat kemarin (26/5/2023).
Ali mengatakan, kapal tersebut berbeda dengan kapal penyapu ranjau, karena memiliki teknologi yang lebih canggih.
"Ini beda dengan penyapu ranjau ya, ini pemburu ranjau, jadi kapal ini cukup canggih," kata Ali di Mabes TNI AL (Mabesal) Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (31/5/2023).
"Jadi kapal ini dilengkapi dengan peralatan canggih, baik sensor, maupun alat-alat pendeteksi ranjau dan mentralisi terhadap ranjau, ranjau apapun. Termasuk magnetik, akustik, tekan, dan ranjau kombinasi dia bisa laksanakan pemburu ranjau," sambungnya.
BACA JUGA:
Kapal tersebut, kata Ali, menggunakan bahan baja non-magnetik serta memiliki degaussing system, yaitu sistem untuk mengurangi kemagnetan kapal, serta dilengkapi penggerak motor elektrik untuk mengurangi tingkat kebisingan.
BACA JUGA:
"Jadi ini teknologinya cukup kekinian, dan merupakan kapal buru ranjau yang cukup canggih, di mana bahannya dari steel, non magnetic steel. Ya jadi dia baja tapi dia tidak mempunyai medan magnet, pengaruh kemagnetan," katanya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.