Dalam prosesnya, pilot terbang langsung ke awan kumulonimbus atau awan kumulus yang menjulang tinggi. Awan tersebut menyerupai marshmallow yang tinggi dan halus dan dibentuk oleh aliran udara ke atas yang kuat dari tanah. Awan ini biasanya berkembang menjadi badai petir.
Setelah pesawat terbang di dalam awan, pilot menyalakan salah satu dari lusinan suar yang dipasang di sayap pesawat dengan mekanisme penembakan di kokpit. Suar yang ditembakkan melepaskan asap dan senyawa garam, seperti natrium klorida atau kalium klorida. Kandunga di garam itu menarik uap air di awan untuk membentuk tetesan air. Tetesan ini menyatu menjadi tetesan yang lebih besar dan setelah cukup berat, akhirnya bisa jatuh sebagai hujan.
(Qur'anul Hidayat)