JAKARTA - Hari ini, 58 tahun silam Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa kelam itu menewaskan 6 jenderal dan satu perwira TNI.
Ada sebuah kisah di balik peristiwa berdarah itu, dari keluarga Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono atau MT Harjono, salah satu korban kebiadaban PKI. Keluarga merasakan firasat aneh terhadap perwira TNI kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 tersebut.
Sehari sebelum kejadian pada 30 September 1965 sore, anak-anak MT Haryono melihat ada barisan tentara dekat rumahnya. Salah satu dari mereka bertanya, di mana letak rumah MT Harjono. Sontak dengan spontan, mereka pun menunjuk rumah mereka sendiri.
Firasat lain juga dialami putri bungsu MT Haryono, Enda Marina. Saat itu, sang jenderal tengah sibuk menata bunga anggrek dengan mendengarkan musik klasik. Berbeda dari biasanya, Enda yang ingin mendekati sang Ayah, justru disuruh menjauh.
Perilaku ganjil buat Enda yang selama ini sangat dekat dengan ayahnya. Enda juga bermimpi di malam sebelum kejadian, ayahnya yang ditusuk tombak oleh beberapa orang misterius, hingga tak berdaya dan bersimbah darah.
Keganjilan lainnya yang dialami yakni sang jenderal yang tak pernah bicara politik dengan anak-anaknya di rumah dalam kesehariannya. Namun,pada suatu ketika, anak sulung MT Haryono, Harianto Harjono atau yang biasa disapa Babab, tiba-tiba diajak bicara soal politik oleh ayahnya.
Bahkan, dirinya mendapat sebuah wejangan atau cenderung seperti petuah terakhir MT Haryono pada anaknya.
“Bab, kalau kamu sudah besar nanti, sebaiknya hindarilah berpolitik. Karena politik itu sangat berisiko. Politik itu menghalalkan segala cara. Selagi kamu berada dalam satu kelompok, kelompok itu akan menganggapmu sebagai teman,” ucap MT Haryono pada Babab.