Pada malam serangan rudal - 20 Oktober - Khalil sedang bekerja di rumah sakit.
"Sebuah bom besar meledak," katanya kepada salah satu rekan saya di BBC yang ikut bersamanya ke lokasi serangan.
“Tetangga saya datang ke rumah sakit. Jadi saya bertanya, 'Di mana pengebomannya?' Dan mereka bilang padaku, 'Itu ada di sekitar rumahmu.' Saya harus lari ke lokasi untuk memeriksa keluarga. Saya mencoba menelepon tetapi tidak ada yang menjawab. Dan seperti yang Anda lihat, seluruh rumah dibom,” terangnya.
Sebelas anggota keluarganya terbunuh. Mereka termasuk keempat anaknya, dua saudara perempuannya, ayahnya yang berusia 70 tahun, saudara laki-laki dan perempuan iparnya, serta kedua putri mereka. Mereka dibungkus dengan kain kafan putih di halaman rumah sakit.
Istrinya terluka parah. Dia dirawat karena luka bakar dan luka lain yang dideritanya ketika rumahnya runtuh.
Khalil sudah mengetahui perang sebelumnya di Gaza. Sebidang tanah kecil – dengan total luas daratan hanya 141 mil persegi (365 km persegi) – telah mengalami konflik tanpa henti selama beberapa dekade. Begitulah warisan konflik yang dia khawatirkan dalam membina keluarga di sana.
“Saya ingat pada perang 2014, istri saya sedang hamil, dan tetangga kami dibom. Istri saya sedang berusia tujuh bulan dan hampir terjatuh dari tangga akibat ledakan. Dan saya berpikir, bagaimana saya bisa membawa anak-anak dalam hidup ini?,” kenangnya.