Walaupun karirnya mulai mencuat, tetapi Presiden Soekarno tidak percaya sepenuhnya dengan kemampuan Soeharto, karena itu Soekarno lebih memilih Mayjen Ahmad Yani sebagai Panglima Angkatan Darat menggantikan Jenderal A.H. Nasution sekitar tahun 1964, walaupun Mayjen Ahmad Yani adalah junior dari Soeharto sendiri.
Dan setelah itu pun, Soeharto harus kembali kalah dengan juniornya Marsekal Madya Omar Dani yang dipilih oleh Bung Karno sebagai Panglima Komando Laga Siaga (Kolaga).
BACA JUGA:
Menurut Jusuf Wanandi dalam memoarnya, Soeharto memutuskan akan berhenti dari tentara karena kecewa tidak diangkat menjadi Panglima Komando Mandala Siaga (Kolaga) dalam rangka Operasi Dwikora ganyang Malaysia. Jabatan tersebut diberikan Soekarno kepada Laksamana Madya Udara Omar Dani, Panglima Angkatan Udara yang jauh lebih junior dari dirinya.
"Dia menulis surat pengunduran dirinya dari Angkatan Darat pada bulan Mei (1965), tapi diintersep oleh Letnan Kolonel Sudjono Hoemardani hingga tidak sampai ke tangan Nasution," tulis Wanandi.
BACA JUGA:
Walaupun dua kali gagal mundur dari militer, tetapi tahun 1965 akhirnya membawa masa berkah bagi Soeharto, di mana semakin gencarnya PKI dan harmonisnya hubungan PKI-Soekarno, serta meletusnya Gerakan 30 S/PKI yang mengakibatkan tewasnya jenderal petinggi Angkatan Darat, termasuk A. Yani.
Dengan kekacauan yang terjadi itu, sudah cukup membuat jalan Soeharto menuju puncak kekuasaan, hal ini dengan dikeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang juga sebagai penanda peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Orde Baru yang dipimpin Soeharto.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.