Masyarakat di wilayah tropis dan subtropis di Afrika, Asia Tenggara, dan sebagian wilayah Amerika mempunyai risiko tertinggi tertular penyakit ini karena nyamuk pembawa virus chikungunya merupakan endemik di wilayah tersebut.
“Namun, virus chikungunya telah menyebar ke wilayah geografis baru yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit ini secara global,” terang FDA.
Data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menunjukkan bahwa Brasil memiliki jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun ini dengan 218.613 kasus.
Lebih dari 93.000 kasus juga telah dilaporkan di India, dimana ibu kota Delhi mengalami wabah besar pada 2016.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.