BENCANA alam di Indonesia selalu meninggalkan kisah pilu. khususnya bagi masyarakat terdampak. Kerugian berupa hilangnya nyawa dan harta benda kerap menjadi duka saat bencana menerjang.
Indonesia bahkan menjadi salah satu negara dengan bencana alam terbanyak di dunia. Lantas timbul pertanyaan apakah bencana tersebut terjadi secara alamiah atau akibat manusia "menantang"?
Sepanjang Januari-Desember 2023, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNP) menyatakan 4.847 bencana terjadi di Indonesia. Sebagian besar bencana hidrometeorologi seperti kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puting beliung, gelombang dingin dan panas.
Rinciannya, 1.135 bencana ekstrim, banjir 1.114 kejadian, tanah longsor 568 kejadian dan 31 gelombang pasang. Terdata, 217 orang meninggal dunia, 5.678 orang luka-luka, dan 33 orang hilang. Kemudian 28.348 rumah dan 640 fasilitas umum rusak.
Realita ini seharusnya menjadi perhatian seluruh anak bangsa. Terlebih sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia akibat kelalaian manusia. Musibah banjir, tanah longsor, abrasi dan kekeringan terjadi tidak lepas karena ulah manusia sendiri.
Pemukiman penduduk di pinggiran sungai menjadi pemandangan di sebagian kota besar Indonesia. Akibatnya ukuran sungai mengecil dan tidak mampu menampung debit air selama musim hujan.
Kondisi tersebut semakin parah karena masyarakat sering kali membuang sampah ke sungai. Sampah yang menumpuk menyebabkan sungai dangkal dan lajunya air terhambat.
Demikian pula dengan tanah longsor. Sebagian masyarakat mendirikan bangunan di zona longsor. Bahaya longsor menanti karena sebagian pohon yang akarnya menyimpan air dan menahan pergerakan tanah ditebang.
Lumrah rasanya saat musim penghujan tiba sebagian besar daratan di Indonesia seperti lautan. Ancaman longsor juga selalu menghantui masyarakat yang tinggal di area kaki bukit atau gunung.
Tidak elok rasanya menyatakan semua bencana karena proses alamiah. Campur tangan manusia yang tidak bertanggungjawab menjadi pemicu utama. Memang ada bencana menjadi kehendak Allah SWT seperti gunung meletus dan gempa bumi.
Selain itu, bencana kerap terjadi karena letak Indonesia di pertemuan tiga lempeng tektonik, lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Kondisi itu menimbulkan potensi bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir, dan tanah longsor.
Bukan berarti data ilmiah tersebut membuat masyarakat seenaknya. Bencana bisa diminimalisir bila keseimbangan alam terjaga. Kecil kemungkinan terjadi banjir bila sungai tidak terkontaminasi dengan bangunan dan sampah. Kerusakan lingkungan di Indonesia sangat mengkhawatirkan.
Banjir juga bisa dihindari bila pohon-pohon tidak ditebang untuk didirikan bangunan. Hal serupa juga berlaku untuk menghindari tanah longsor. Alangkah baiknya semua masyarakat intropeksi diri dan segera bertindak agar bencana tidak berdampak besar.
Sebelum terlambat, masyarakat harus meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan informasi terkait bencana alam dan mitigasinya. Minimnya pengetahuan masyarakat membuat bencana alam berulang terjadi. Terkesan tidak ada solusi dan pencegahan.
(Fetra Hariandja)