JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menyoroti soal macetnya elektabilitas Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Berbeda dengan itu, Capres-Cawapres yang diusung Partai Perindo, Ganjar Pranowo-Mahfud MD justru semakin naik.
"Kenapa Pak Jokowi kelihatan lebih aktif, lebih terbuka untuk condong pada salah satu paslon, saya kira karena ada kemacetan dari elektabilitas dari paslon yang bersangkutan," ujar Ray usai mengikuti Diskusi Kebangsaan bertajuk Pemilu 2024, Ancaman Demokrasi dan Kejahatan Kekuasaan digelar Gerakan Aktivis 98 di Posko Gerak 98, Jalan Tegal Parang Utara I, Mampang, Jakarta Selatan pada Rabu (17/1/2024).
Ray awalnya menjelasnya mengapa sampai Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat ini terlihat lebih aktif dan terbuka untuk mendukung salah satu paslon Capres-Cawapres. Sebabnya, ada kemacetan dari elektabilitas paslon tersebut, yakni pasangan Prabowo-Gibran.
"Saya hitung sekitar ada 4 faktor, faktor pertama adalah tren kekuasaan kepada Pak Jokowi stagnan atau bisa disebut juga mulai menurun. Lalu, jelas berimplikasi pada siapa pun paslon yang didukung Pak Jokowi," tuturnya.
Ia menerangkan, turunnya elektabilitas Prabowo-Gibran terjadi lantaran gaya kampanye pasangan bernomor urut 02 itu yang monoton. Sedangkan pasangan Capres-Cawapres lainnya, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar aktif terjun ke lapangan.
"Gaya kampanye, khususnya 02 yang monoton, kan begitu-begitu saja, sementara 01 dan 03 aktif ke mana-mana mengikuti masyarakat dan secara umum faktor penting dari elektabilitas itu adalah kedekatan dengan masyarakat," ujarnya.
Ia menilai, kedekatan dengan masyarakat saat ini sulit dibangun oleh pasangan nomor urut 2 tersebut. Selain itu, turunnya elektabilitas Prabowo-Gibran hingga membuat Jokowi turun tangan lantaran komparasi yang dilakukan Capres Ganjar Pranowo tentang siapa sosok yang lebih layak menggantikan Jokowi sebagai Presiden mendatang.
"Nah, faktor ketiga adalah adanya komparasi yang dikakukan Ganjar Pranowo. Jadi Ganjar sekarang ini misalnya mengkomparasikan pada publik, dia lebih layak atau pak Prabowo yang lebih layak, lebih siap, kompatibel, lebih pas menggantikan pak Jokowi, tuk mengerjakan apa yang menjadi kebijakan-kebijakan, kira-kira begitu," paparnya.
"Keempat, karena isu dinasti politik mulai diterima oleh publik. Nah, 4 faktor ini yang membuat elektabilitas 02 kelihatan agak macet dan oleh karena itu saya tak yakin akan ada 1 putaran, keyakinan saya 2 putaran," katanya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.