Tiba saatnya untuk menghadap, Ki Ageng Mangir bersama istri serta para abdi menemani. Lalu belum sampai tujuan, Ki Ageng Mangir memerintah setengah pasukannya untuk kembali, karena merasa kalau terlalu banyak nanti dikira akan berperang. Namun ternyata Ki Ageng Mangir diminta mengurangi pasukannya kembali setelah sampai di selatan Gandok. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan dalam diri sosok Ki Ageng Mangir, namun beliau memilih untuk meneruskan perjalanan.
Setelah sampai di Gerbang Kemandungan, senjata Tombak Baru Klinting harus dicondongkan, padahal condongnya Tombak Baru Klinting merupakan pantangan. Selanjutnya Ki Juru Martani dengan lembut menawarkan agar senjata Ki Ageng Mangir dititipkan saja kepadanya dan menyuruh Ki Ageng Mangir segera masuk menghadap Panembahan Senapati beserta istrinya.
Saat Ki Ageng Mangir masuk tanpa senjatanya dan sungkem menundukan kepala, Panembahan Senapati langsung memegang kepala Ki Ageng Mangir dan dipukulkan ke batu gilang singgasananya. Ki Ageng Mangir saat itu juga meninggal dan dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. Adapun jenazahnya dimakamkan setengah dibagian dalam dan setengah lagi dibagian luar. Alasan ini ialah karena Ki Ageng Mangir merupakan menantu sekaligus Musuh Panembahan Senapati.
(Awaludin)