Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jawab Tudingan Prabu Revolusi, Guru Besar UGM : Kampus Benteng Terakhir Masalah Etika!

Yohanes Demo , Jurnalis-Jum'at, 09 Februari 2024 |01:51 WIB
Jawab Tudingan Prabu Revolusi, Guru Besar UGM : Kampus Benteng Terakhir Masalah Etika!
Prabu Revolusi (Foto : Istimewa)
A
A
A

 

YOGYAKARTA - Guru Besar Psikologi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Koentjoro menilai tudingan terhadap para sivitas akademika yang secara beruntun mengeluarkan petisi kritikan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kegagalan memahami kebebasan berfikir akademik.

Sebelumnya, video mengenai pernyataan Prabu Revolusi yang menyebut sikap sivitas akademika sebagai hal yang tidak elok karena ikut campur kampus dalam politik praktis. Video tersebut viral lewat akun media sosial TikTok @prabu_revolusi.

"Sekarang ini kelihatannya lagi marak ada gerakan mengatasnamakan kampus untuk berbicara tentang permasalahan politik, ini perspektif saya. Menurut saya, sangat tidak elok ketika kampus dicampur adukkan dengan kepentingan politik, apalagi tidak secara resmi mewakili kampus," ujar Prabu dalam video tersebut dikutip, Jumat (09/02/2024).

Bahkan, masih dalam video tersebut, Prabu menyebut jika apa yang dilakukan para akademisi itu adalah suara partisipan.

Menanggapi hal tersebut, Prof Koentjoro menilai bahwa Prabu lah yang justru gagal dalam memahami sikap para dosen dan akademisi. Menurutnya, keterlibatan para dosen dan guru besar itu tidak mengarah kepada politik praktis, melainkan soal etika berpolitik dan kebangsaan yang saat ini ditunjukkan oleh Presiden Jokowi.

"Kampus dan guru besar adalah benteng terakhir masalah etika dan moral. Guru besar adalah pemikir bangsa," ucapnya.

Ia menegaskan, bahwa petisi yang dikeluarkan kampus UGM, dalam hal ini melalui petisi Bulaksumur yang berlangsung pada awal Februari lalu murni sebagai kritik terhadap Presiden Jokowi yang juga sebagai alumnus UGM.

"Kami dari UGM mengingatkan Pak Jokowi untuk, pertama kembali mewujudkan nilai-nilai UGM dan jati diri UGM, kedua untuk kembali mewujudkan demokrasi Pancasila," ujarnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement