JAKARTA - Direktur Eksekutif Poldata Indonesia, Fajar Arif Budiman mengatakan, pihaknya menggelar survei Peta Elektabilitas Calon Walikota Bandung 2024, menjelang Pemilihan Wali Kota Bandung, sejumlah pihak meningkatkan intensitas komunikasi politik. Hasilnya, sejumlah nama muncul sebagai kandidat. Nama-nama yang muncul beragam, mulai dari kandidat yang sudah dikenal lama dalam dunia politik, maupun wajah-wajah baru dalam konteks pemilihan kepada daerah.
Sebanyak 15 tokoh yang terjaring Survei Poldata Indonesia diantaranya Atalia Praratya, Anggota DPR-RI terpilih dari Partai Golkar yang juga merupakan istri dari Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat 2018-2023), lalu dua staf khusus Ridwan Kamil seperti Ir. H. Juwanda dan Arfi Rafnialdi.
“Atalia menduduki peringkat pertama pada setiap pengukuran, baik top of mind maupun pertanyaan tertutup mengenai popularitas dan elektabilitas. Hal ini tentu tidak mengejutkan mengingat hasil perolehan suara Atalia di Pileg 2024 yang lalu,” kata Fajar Arif Budiman dalam keterangannya, Kamis (23/5/2024).
Meski didominasi oleh Atalia Praratya, kata dia, terjadi perubahan urutan antar hasil pengukuran popularitas dan elektablitas. Popularitas tertinggi Atalia yakni 72,71%, lalu Erwin 45,10%, Edwin Sanjaya 35,43%, Juwanda 30,92%, Acep Lulu Iddin 28,44%, dan , dan Arfi Rafnialdi 23,35%. Sedangkan elektablitas, Atalia yang memperoleh 43,3% disusul oleh Erwin 13,8%, Acep Lulu Iddin 7,9%, Andri Gunawan 6,4%, Edwin Sanjaya 5,3%, dan Arfi 1,4%.
“Masih terjadi dinamika yang fluktuatif terkait kecenderungan pilihan masyarakat Kota Bandung. Memang hingga saat ini belum ada kepastian siapa saja yang akan menjadi peserta Pilwalkot Kota Bandung sehingga masyarakat belum menentukan pilihan. Namun yang harus diperhatikan adalah meskipun sempat dinyatakan mundur dari pencalonan, elektabilitas Atalia masih sangat tinggi dan mendomiinasi di antara nama-nama yang muncul pada bursa,” bebernya.
Kader Golkar Mendominasi dalam Bursa Wali Kota Partai politik masih menjadi sumber utama kaderisasi politik terutama untuk mengisi jabatan publik kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kota Bandung. Belum terlalu banyak nama-nama di luar kader partai politik yang menghiasi bursa kepala daerah di Kota Bandung.