Ia pun menekankan pentingnya mengintegrasikan Pancasila sebagai paradigma etika dalam pendidikan dan menekankan peran keluarga sebagai fondasi utama pendidikan.
Hariyono menyerukan agar pendidikan di Indonesia lebih selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan lebih mengutamakan pengembangan sikap kritis serta kepekaan sosial.
Pakar pendidikan Taman Siswa, Ki Darmaningtyas, menyatakan bahwa pendidikan saat ini lebih dilihat sebagai kewajiban konstitusional ketimbang sebagai proses untuk mencerdaskan bangsa.
"Secara ideologis, pendidikan tidak dilihat sebagai tanggung jawab negara, tetapi sebagai beban. Sejak 2016 ada kebohongan, karena ternyata anggaran pendidikan 20% sebagian untuk anggaran dana desa,” katanya.
Dia juga menyoroti meningkatnya biaya pendidikan yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas yang sepadan. “Komersialisasi pendidikan makin vulgar, terutama di pendidikan tinggi. Proses kapitalisasi, privatisasi, liberalisasi yang makin massif dan parahnya hal ini didukung regulasi,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )