“Kupercayakan Palestina kepadamu, permata mahkota umat Islam, jantung setiap orang merdeka di dunia ini.
Kupercayakan rakyatnya kepadamu, anak-anak mudanya yang tertindas, yang tak diberi kesempatan bermimpi atau hidup aman dan damai,
yang jasadnya yang suci telah dihancurkan oleh ribuan ton bom dan rudal Israel, terkoyak, sisa-sisanya berserakan di dinding.
Kumohon jangan biarkan rantai membungkammu atau batas-batas menghalangimu. Jadilah jembatan menuju pembebasan negeri dan rakyatnya, hingga mentari martabat dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dijarah.”
Dia juga meminta masyarakat untuk menjaga keluarganya, terutama putrinya—yang belum pernah ia lihat tumbuh dewasa—putra, istri, dan ibunya.
“Kupercayakan kepadamu untuk menjaga keluargaku,
Kupercayakan kepadamu buah hatiku, putriku tercinta, Sham, yang tak sempat kulihat tumbuh seperti yang kuimpikan.
Jadilah jembatan menuju pembebasan negara dan rakyatnya, agar matahari martabat dan kebebasan dapat menyinari tanah air kami yang dirampas,” tulisnya.
"Jika aku mati, aku mati dengan teguh pada prinsip-prinsipku, bersaksi di hadapan Tuhan bahwa aku ridha dengan ketetapan-Nya, beriman dalam pertemuan dengan-Nya, dan yakin bahwa apa yang ada di sisi Tuhan lebih baik dan abadi. Jangan lupakan Gaza. Dan jangan lupakan aku dalam doa-doa kalian yang tulus memohon ampunan dan penerimaan," tulis postingan tersebut.
Bersama Al-Sharif, koresponden Al Jazeera Mohammed Qreiqeh dan juru kamera Ibrahim Zaher, Moamen Aliwa, serta Mohammed Noufal juga tewas dalam serangan Israel tersebut.
Tak lama setelah serangan itu, militer Israel mengakui telah menargetkan mereka dan melabeli Al-Sharif sebagai "teroris" yang "bertugas sebagai kepala sel teroris di Hamas".