Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Setelah Culik Maduro, Trump Ulangi Ancaman Aneksasi Greenland

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 05 Januari 2026 |20:06 WIB
Setelah Culik Maduro, Trump Ulangi Ancaman Aneksasi Greenland
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: X)
A
A
A

JAKARTA Donald Trump kembali mengusulkan aneksasi Greenland setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro. Pernyataan ini disampaikan Trump setelah pemimpin Denmark mendesaknya untuk “menghentikan ancaman” terhadap pulau tersebut.

Berbicara kepada wartawan, Trump mengatakan, “Kita (AS) membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional.”

Trump telah berulang kali mengangkat kemungkinan wilayah semiotonom Denmark tersebut menjadi bagian yang dianeksasi oleh AS, dengan alasan lokasinya yang strategis untuk tujuan pertahanan dan kekayaan mineralnya.

Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, menanggapi dengan mengatakan “cukup sudah” dan menggambarkan gagasan kendali AS atas pulau tersebut sebagai “fantasi.”

“Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi. Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk diskusi. Tetapi ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional,” kata Nielsen.

Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengatakan, “AS tidak berhak mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark.”

 

Frederiksen menambahkan bahwa Denmark “dan dengan demikian Greenland” adalah anggota NATO dan dilindungi oleh jaminan keamanan aliansi tersebut, serta mengatakan bahwa perjanjian pertahanan yang memberikan akses kepada AS ke pulau itu sudah ada.

Diwartakan BBC, Perdana Menteri Denmark mengeluarkan pernyataannya setelah Katie Miller – istri dari salah satu ajudan senior Trump, Stephen Miller – memposting di media sosial peta Greenland dengan warna bendera Amerika di samping kata “SEGERA.”

Duta Besar Denmark untuk AS menanggapi unggahan Miller – seorang podcaster sayap kanan dan mantan ajudan Trump selama masa jabatan pertamanya – dengan “pengingat ramah” bahwa kedua negara adalah sekutu dan mengatakan Denmark mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorialnya.

Perdebatan mengenai masa depan Greenland muncul setelah operasi militer besar-besaran AS terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) yang menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, lalu membawa mereka ke New York.

Trump kemudian mengatakan AS akan “mengelola” Venezuela dan perusahaan minyak AS akan “mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut.”

Situasi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa AS mungkin mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatan guna mengamankan kendali atas Greenland, sebuah pulau luas di Arktik – sesuatu yang sebelumnya ditolak oleh presiden AS.

 

Trump mengklaim bahwa menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat akan melayani kepentingan keamanan Amerika karena lokasinya yang strategis dan kelimpahan mineral yang penting bagi sektor teknologi tinggi.

Langkah pemerintahan Trump baru-baru ini untuk menunjuk utusan khusus ke Greenland memicu kemarahan di Denmark.

Greenland, yang memiliki populasi 57.000 jiwa, telah memiliki pemerintahan sendiri yang luas sejak 1979, meskipun pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di tangan Denmark. Meskipun sebagian besar penduduk Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark di masa depan, jajak pendapat menunjukkan penentangan yang sangat besar terhadap bergabung dengan AS.

(Rahman Asmardika)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement