Oleh karena itu, momentum swasembada beras kali ini dinilai sangat tepat dan relevan. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri.
“Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau pangannya tergantung bangsa lain. COVID adalah pembuka mata, peringatan, lampu kuning bagi bangsa Indonesia agar jangan mau tergantung bangsa lain. Apalagi untuk pangan, juga untuk energi,” tegasnya.
Selain pangan, Prabowo juga meyakini Indonesia dapat mandiri dalam pemenuhan kebutuhan energi. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi yang besar, sehingga swasembada bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya adalah pengelolaan yang benar serta keberpihakan kepada petani dan nelayan.
“Bagaimana bisa negara yang begitu besar, diberi karunia tanah yang subur, tetapi tergantung bangsa lain untuk pangan. Kita impor pangan tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya. Dan saya tidak habis pikir, puluhan tahun para petani dan nelayan kita kurang dihormati, kurang dibela, dan kurang dilindungi,” ujar Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan, menurunkan harga pangan serta sarana produksi pertanian, dan memastikan hasilnya benar-benar dirasakan oleh rakyat.
“Kemenangan ini adalah kemenangan rakyat. Dan ini baru awal. Kita akan buktikan swasembada ini kita jaga, kita ulangi, dan kita pertahankan setiap tahun,” tutupnya.
(Awaludin)