Mens Rea Panji Paralel dengan Dirty Vote
Sebelum Mens Rea Panji viral, publik masih mengingat film Dirty Vote yang tayang pada masa tenang Pilpres Februari 2024. Substansi dan pesan film tersebut memiliki paralelitas yang kuat dengan Mens Rea Panji.
Baik Dirty Vote maupun Mens Rea berbicara lugas tentang kritik rezim, kebijakan politik, serta fragmentasi kekuatan civil society di Indonesia.
Sorotan Panji mengenai kualitas demokrasi, partai politik, serta produk pemilu dan pilpres yang disampaikan dengan nada tajam—bahkan beraroma amarah, meski dikemas sebagai komedi—terlihat jelas, termasuk ketika ia menyematkan metafora binatang kepada Wapres Gibran. Dirty Vote juga mengupas isu-isu identik dengan apa yang disuarakan Panji dalam Mens Rea-nya.
Hampir tak ada yang benar-benar “genuine” dari lawakan Panji dalam arti spontanitas komedi. Kritiknya soal tambang NU—yang ia sebut sebagai “jastip” atau “membeli suara”—paralel dengan slide dalam Dirty Vote yang menyoroti keengganan NU bergabung dengan kelompok civil society yang menuding merosotnya kualitas pemilu.
Panji juga secara memukau menyoroti kehadiran militer di ruang-ruang sipil yang seharusnya steril dari peran mereka. Hal ini sejalan dengan kritik dalam Dirty Vote mengenai pengerahan dan mobilisasi aparat kepolisian pada Pemilu dan Pilpres 2024, sebagaimana diusung kuat oleh Bivitri Susanti, Ferry Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.